Berbicara mengenai Jati Diri dan Identitas Bangsa

Suatu hari saya mendengar alunan lagu Indonesia Raya terngiang di kepala saya. Kemudian sejenak saya berpikir tentang bangsa ini. Betapa mirisnya keadaan sekarang ini. Dibawah tikaman tragedi, ironisme dan stereotip. Bencana yang tidak kunjung berhenti. Huru-hara yang selalu bergejolak fluktuatif. Protes massa dan demonstrasi yang sudah jauh diartikan sebagai anarkisme. Keadaan ekonomi yang masih saja stagnan seolah merasa nyaman dengan posisinya dan enggan berhentak maju.

Sudah kah kita mendefinisikan negara kita? Sudah kah kita bercita-cita dan berideologi? Sebagai bangsa Indonesia. Secara formalitas mungkin kita berasumsi sudah. Yaitu tertuang dalam UUD 1945 dan Pancasila.

Namun sudah kah kita mengahayati filsafat dan pemikiran filosofis didalamnya? Sekali lagi, sudahkah?Apa ideologi kita? Pancasila? Pancasila yang seperti apa?

Sudahkah masing-masing individu menghayati kalimat "Ketuhanan Yang Maha Esa?" Jika masih ada pembunuhan dan intrik-intriknya. Sudahkah setiap individu menghayati arti "Kemanusiaan yang beradab?" Jika masih banyak yang biadab. Pada dirinya sendiri, pada orang lain atau bahkan pada bangsa ini. Biadab dengan membiarkan diri terjerumus dalam tindak inkonstitusional. Biadab dengan merusak hak-hak dan legalitas orang lain. Atau biadab dengan ketidakpedulian terhadap masa depan haluan bangsa ini sebagai masyarakat yang apatis.

Mari sejenak kita merenung. Apa yang bisa kita perbuat untuk bangsa ini. Demi pengahayatan terhadap "Persatuan Indonesia", demi keselarasan "Musyawarah Mufakat" yang bermuara pada "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia"

Kita tidak perlu ribut berbicara soal ekonomi global 2020 atau visi Indonesia masa depan jika kita masih belum bisa menemukan jati diri bangsa ini. Disadari atau tidak bangsa ini telah menjadi bangsa yang kehilangan Jatidirinya. Bangsa yang tidak tahu mengetahui rupa dan karakter mereka sendiri. Bangsa yang belum bisa mendefinisikan kemauan dan ideologi mereka. Bangsa yang masih belum menerima pluralisme dan harmoni sosial. Kita sudah terlalu banyak menerima teori, tentang masyarakat madani, tentang good governance, tentang pembangunan masyarakat thayyibah. Namun sekali lagi, kita masih pada tataran syariah untuk memahami filosofi dan aplikasinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Saya sepenuhnya paham bahwa tidak ada bangsa yang sempurna. Karena suatu bangsa adalah himpunan manusia yang hidup bersama. Dalam naungan geopolitik, latar belakang kultural dan historis yang serupa atau identik (Otto Bauer, Ernest Rinan dan Gibernau dalam pandangannya mengenai bangsa) . Sekali lagi, mereka adalah himpunan manusia, yang dalam kenyataan dan takdirnya manusia tidak pernah luput dari kompleksitas dan kesalahan. Namun, ada nilai-nilai yang menjadi tujuan komoditi dan prioritas yang seharusnya diselenggarakan paling tidak. Yang mana nilai-nilai itu sendiri tidak lain merupakan referendum dan keinginan bersama masyrakat tersebut. Sebagai hak dasar manusia, hak dasar hidup bermasyarakat dan membangun kedaulatan yang disebut Negara (Friedrich Hegel dan Roger H Soltau dalam pandangannya terhadap universalisme kedaulatan) Pertanyaannya adalah sudahkah Indonesia memenuhi keinginan dan referendum rakyatnya?

Jauh dari balik tirai ironisme itu, kita bahkan belum mampu menghadirkan legalitas dan jati diri bangsa ini untuk dikenali bangsa lain. Tidak seperti Jepang dengan tradisionalisme dan modernisme mereka yang berjalan bersamaan, Amerika dengan kapitalisme dan liberalisme mereka, Inggris dengan norma dan kebijakan politik diplomatis mereka. China, Kuba dan Soviet dengan sosialisme mereka. Lalu apakah kita ini? Pancasila seharusnya. Namun ia masih tertidur dipersemaiannya yang agung. Seperti Kumbakarna yang tertidur untuk Alengka. Kumbakarna yang agung yang terlupakan.

Mari kita benahi bangsa ini. Kita definisikan Pancasila. Kita hayati lebih dari sekedar mengahafalkan sila kesatu sampai kelima. Kita resapi kaidah filosofisnya. Dan kita tuturkan anak cucu kita, bahwa Indonesia adalah bangsa yang agung. Sejajar dengan bangsa-bangsa besar lain didunia. Dengan pemahaman mereka, dengan penghayatan mereka terhadap jati diri dan ideologinya. Saya percaya pada segenap rakyat Indonesia dengan sikap welas asih yang masih tersimpan kuat dalam sanubari mereka sebagai bangsa yang luhur dan berbudi :)

" Muga sing Indonesia isih kelingan Indonesiane, sing Jawa kelingan Jawane :) "
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

[Live as an exchange student] Part.12 -- Sebuah Cerita dari Belahan Dunia lain





16 November 2009 ~ Pagi bersinar cerah diiringi salju yang turun dengan lebat di awal winter. Hawa diluar begitu dingin, menggoda insan-insan manusia untuk tetap terbaring nyenyak di kasur-kasur empuk mereka. Di pagi buta yang dingin di belahan amerika, saya bersiap memakai pakaian kebesaran saya sebagai orang Jawa. Mempersiapkan jarit, stagen, keris, selop, beskap dan lain sebagainya. Di pagi yang buta. Bahkan sebelum mentari datang menyapa belahan dunia itu. Ditengah deru salju diluar jendela kamar saya. Saya lihat diri saya di cermin. Terngiang akan betapa lamanya saya tidak memakai outfit ini selama terbuai dengan hiruk pikuk Amerika Serikat. Hari ini saya kencangkan keris saya, saya rapikan beskap yang ada di badan saya. Karena pada hari ini saya akan bercerita tentang negeri saya yang damai nun jauh terbelah samudra.

Pertengahan November adalah International Education Week di Amerika Serikat. Suatu momentum yang tepat bagi saya, bercerita tentang Indonesia, negara yang saya banggakan. Atau secara familiar sering disebut presentasi. Dengan busana Jawa lengkap melekat di badan saya, saya sudah menunggu lama momen ini. Dengan selop yang terpasang di dua permukaan kaki saya. Di tengah Winter, ditengah suhu -5 derajat celcius di luar sana. Tanpa Coat, tanpa syal. Tidak lucu rasanya berbusana Jawa dengan Coat atau syal. Saya berpakaian sebagaimana saya. Semangat dan eksitasi saya itulah yang akan tetap membuat saya hangat ditengah winter ini. Kemudian saya akan dengan bangganya bercerita bahwa negara tempat saya berasal adalah negara yang hangat yang tanpa kita perlu khawatir kedinginan. Beberapa teman saya yang saya jumpai di Hall Way menyapa ramah
" Gin outfitmu bagus sekali"
Atau beberapa orang yang baru kesambet juga menyapa saya
"Gin kamu kelihatan seksi deh hari ini"
Batin saya : "Ya ampuuun ini orang tadi sarapan apa bilang saya seksi -,-"


Ada juga yang menyapa agak aneh,
" Aren't your feet cold? You're the one of the craziest person in this school. It is snowing man"
Lalu dengan santainya saya jawab
"Nope. I am fine" *dengan senyum pertanda jari kaki yang tidak bisa digerakkan* haha
Beberapa poin teman saya itu benar, karena tidak semestinya berselop ketika semua orang memakai boot tebal mereka haha.

Sejenak kemudian saya sudah berada dikelas. Saya mulai presentasi dengan memperkenalkan pakaian saya. Dari filosofis blangkon dengan tonjolannya dibelakang sebagai tanda kesederhanan sampai selop yang membuat saya dikatai crazy.

Beberapa saat kemudian mereka akan bersorak "wooow. enaknya tidak ada salju"
Saya lupa mengatakan pada kalian guys, kebanyakan orang amerika tidak suka salju. Saya sendiri pun tidak. Awalnya memang menyenangkan. tapi lama-kelamaan merasakan juga ketidaknyamanan karena salju. Setiap berjalan akan licin, kaki tenggelam dalam salju, susah bernafas, dan hidung terasa basah setiap saat. Bibir juga akan berdarah jika anda tidak memakai lip balm. 5 menit tanpa melindungi tangan anda sudah cukup membuatnya susah digerakkan. Jadi, ketika saya mengatakan bahwa Indonesia panas setiap saat, maka mereka akan berteriak-teriak ingin datang.

Kemudian saya akan bercerita tentang Indonesia dan alamnya yang indah, dan beberapa dari mereka akan mengangkat tangan dan bertanya,
"Di Indonesia ada tivi sama cellphone ga?"
"Di Indonesia kamu sekolah naik kuda?"
Batin saya menjerit haha. Engga deng, batin saya ketawa.
Maklum, orang amerika tidak begitu pintar dalam geografi. Mereka bahkan tidak tahu dimana itu Indonesia. Beberapa saya tanyai dan mereka menebak itu ada di bagian tengah Afrika.
Yaampuuun, nebak benuanya bener aja engga -,-

Sejurus setalah itu, saya tampilkan tarian jawa dan suara gamelan. Beberapa dari mereka ada yang ketakutan haha. Orang amerika tuh tingkahnya aneh-aneh ya? :p Setelah itu saya tampilkan wayang kulit. Saya mendalang untuk beberapa saat. Dengan bahasa Ingrris tentunya. Selesei pertunjukkan mereka berdecak kagum dan memberikan sorakan keras sampai mengundang semua siswa datang ke kelas kami kala itu. Beberapa saat setelah itu saya bagikan wayang-wayangan kecil sebagai souvenir untuk mereka. Semua anak berebut. Beberapa protes dan marah-marah tidak dapat wayang-wayangan itu haha. Yang mendapatkan wayang-wayangan saya, benda itu mereka bawa kemana-mana. Mereka pamerkan ke teman-temannya yang lain yang tidak dapat. Sehingga satu sekolah sindrom wayang kulit. Guru Sejarah Amerika saya bahkan semenjak itu mengajar menggunakan wayang kulit yang saya berikan.

Disisi lain, saya juga berikan beberapa dari mereka pakaian batik. Keesokan harinya saya melihat seperti parade orang kondangan teman-teman saya memakai batik-batik itu. Entah mengapa, terharu saya melihatnya. Melihat bangsa lain begitu terkagum-kagum dan menikmati kebudayaan Indonesia. Sekaligus miris, melihat bangsa Indonesia sendiri justru tidak menikmati apa yang mereka miliki :(

Hari itu saya telah membuat suatu sejarah. Sejarah kecil memang. Tidak sebesar Uni Soviet ketika mengalahkan Jerman sebagai tanda berakhirnya perang di Eropa, namun paling tidak, hari itu saya telah mengubah beberapa pikiran manusia-manusia dari belahan dunia lain. Mengenalkan mereka dengan negeri bocah ingusan ini yang nun jauh disana. Dan mereka akan bercerita pada anak cucunya, bahwa seorang anak, pada hari itu datang. Dan menceritakan bagian lain dunia kepada mereka.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Paradoksal Matematika dan Kajiannya Dalam Lingkup Filsafat

Bukan sesuatu yang mengherankan jika matematika dikatakan sebuah paradoks. Atau sebaliknya didefinisikan sebagai inner-dimension (ruang lingkup dimensi) yang mencakup baik kebenaran secara utuh maupun kontradiksinya. Baik kebenaran secara koherensi, korespondensi, proporsional, performatif, proposisi atau bahkan yang bersifat paradigma. Atau mungkin sebaliknya tentang ketidakmampuannya mengequivalensikan suatu aksioma. Seperti yang diungkapkan Kurt Godel dalam teorema ketidak-lengkapan-nya (Godel's Incompleteness Theorem) bahwa disaat yang sama, aksioma berimplikasi logis pada kompleksitas dan menambah ruang lingkup. Yang berakibat pada ketidakmampuan memecahkan sesuatu seperti : kasus Twin Prime, Konjektur Goldbach, bahkan Hipotesis Riemann. Karena adanya beberapa aksioma yang saling berkontradiksi dan mempertanyakan satu sama lain.

Yang hendak saya angkat disini ialah sorotan saya terhadap matematika dari sudut pandang ilmu filsafat yang pada hakikatnya adalah suatu konsep dasar berpikir logis dan mengkritisi suatu masalah. Dua konsep dasar yang pada hakikatnya sama penggunaannya pada matematika. Bukan untuk membantah, namun hanya menambahkan beberapa algoritma pemikiran filosofis.

Matematika terlahir dari suatu pendefinisian abstraksi manusia terhadap sistem. Yang kemudian nantinya sistem itu sendiri diterminologikan sebagai numerik. Sebuah gagasan yang memang benar-benar bersifat filosofis dan abstrak. Didapatkan dari suatu pendefinisian dan pengaksiomaan yang mendalam. Sebenarnya salah juga saya mengatakan pengaksiomaan. Karena pada hakikatnya aksioma sudah terlahir dengan sendirinya sebagai konsekuensi logis dan ide dasar suatu ekspansi terhadap sistem lain.

Yang paling menggugah saya adalah tulisan Whitehead dan Russell dalam bukunya Principia Mathematica yang mengemukakan pembuktian dari 1+1 = 2.
Dari langkah awal mereka melakukan suatu pendefinisian terhadap istilah yang kemudian menelurkan terminologi. 1,2,3 dan seterusnya itu sendiri merupakan sebuah pendefinisan.
1 sebagai definisi awal dan 2 sebagai definisi suksesor 1. Atau :


Dengan definisi, 1 = {ø}, dan 2 = {ø,{ø}}, menambahkan satu ke semua nomor, memiliki artian membentuk kesatuan dari nomor tersebut dan set yang mengandung nomor itu sendiri.

Jadi, 1+1 = kesatuan (union) {ø} dan {{ø}}, i.e. {ø,{ø}} = 2.

secara equivalen, 0 = ø, dan secara umum n = {0,1,2,...,n-1}.

lalu n+1 = n union {n} = (0,1,2,...,n}.

jadi 1+1 = {0} union {1} = {0,1} = 2.

atau juga sejalan dengan aksioma Peano :

Bilangan natural terdiri dari satu set N bersama dengan "sucessor function" f() (fungsi aksen)
1. Kemudian ada anggota unik bilangan N tersebut , yaitu "1", yang merupakan fungsi bijeksi dari N-{1} ke N.
2. Jika, X, mengandung 1 dan bagaimanapun mengandung , n, dari N, maka ia juga mengandung f(n), kemudian X= N. (ini adalah "induksi")


Suatu langkah awal-wal pendefinisian bukan?

Dan seperti yang saya katakan tadi, beberapa diantaranya membentuk suatu non equivalensi yang kemudian dinamakan "Fallacies". Berbeda dengan kasus diatas tentang Twin Prime, Konjektur Goldbach dan Hipotesis Riemann yang lebih terfokus pada kontroversi di antara aksiomanya melainkan satu kasus ringan pada konsep dasar yang dipahami secara parsial. Atau diterjemahkan dalam ungkapan lain bukan karena kesalahan pada aksioma melainkan kesalahan pada struktur dan sistematikanya. Perhatikan contoh Fallacies berikut :

(Fallacy I)

Pernyataan 1 + 1 = 1

a = 1
b = 1

a = b
a2 = b2
a2 - b2 = 0
(a-b)(a+b) = 0
(a-b)(a+b)/(a-b) = 0/(a-b)
1(a+b) = 0
(a+b) = 0
1 + 1 = 0
2 = 0
1 = 0
1 + 1 = 1

dikatakan Falacy karena tidak seharusnya saling menghilangkan 0

(Falacy II)

Pernyataan 2 = 1

a = b
a2 = ab
a2 - b2 = ab-b2
(a-b)(a+b) = b(a-b)
a+b = b
b+b = b
2b = b
2 = 1

Dikatakan Falacy juga karena tidak seharusnya mencoret 0 di kedua ruas

(Falacy III)

Pernyataan 2 = 1

-2 = -2
4 - 6 = 1 - 3
4 - 6 + 9/4 = 1 - 3 + 9/4
(2 - 3/2)2 = (1 - 3/2)2
2 - 3/2 = 1 - 3/2
2 = 1

Dikatakan Falacy karena tidak memenuhi prinsip kuadrat walau terlihat identik benar

Begitulah matematika dan paradoksalnya. Kompleksitas dan kekurangannya. Definisi dan aksiomanya. Serta misteri yang masih belum terpecahkannya dengan" kontadiksinya".

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Ironisme Dasamuka


Tidak pun seorang raja mahabesar, hidup memang tidak mengenal belas kasihan. Ia mencabik semua yang pernah ada dalam lingkupan dimensinya. Tanpa terkecuali. Bukan hidup yang mencabiknya sesungguhnya. Melainkan sistem yang ada dalam suatu kata yang didefinisikan sebagai hidup itu sendiri. Dengan belatinya yang bermata seribu yang menusuk kemana pun, dimana pun, siapa pun. Dengan ironismenya.

Bahkan seorang Dasamuka yang memerintah Tribawana (walaupun secara ofisial dianggap memerintah Alengka) dengan Pancasonanya yang konon dapat membuainya dalam keabadian selama jasadnya menyentuh tanah, tidak kuasa bertolak dari suatu ironisme. Tidak seorang pun nyatanya.

Ironis, karena ia mati dalam hujatan. Dalam stereotip yang dibungkus doktrin yang dibenarkan. Memang benar, becik ketitik ala ketara. Lebih mudah melihat kejelekan orang lain daripada mengakui keistimewaan seseorang. Sing ala luwih ketara lan sing becik mung ketok setitik. Lebih mudah mencintai Ramawijaya dengan welas asihnya daripada belajar dari seorang Dasamuka.

Apakah dunia tidak lagi berpikir, kejayaannya, romantismenya dan kegigihan tekadnya? Tidakkah dunia sedikit saja mengahrgai usahanya? Minimal dia sudah menepati dharmmanya. Sebagai makhluk yang ditakdirkan terlahir sebagai raksasa. Kode etik raksasa, yang perlu diterjemahkan dalam dogmanya sendiri. Bukan ditafsirkan serupa dengan dogma kesatriaan.

Apakah dunia sudah lupa tentang pengorbanan Dasamuka untuk rakyatnya, Alengka semasa pangerannya dulu. Dia bertapa beribu-ribu tahun mengorbankan 9 kepalanya pada dewata. Sebagai tanda bakti dan untuk kesaktian, yang bermuara pada kejayaan Alengka.

Apakah dunia sudah lupa dengan sejarahnya sendiri, bahwa semenjak kemusnahan Alengka, tidak ada lagi kemakmuran sejaya jaman Dasamuka dimana rumah penduduk saja bertembokkan emas. Kemudian ia lari dari takdirnya dan mengubah namanya menjadi Singgelapura. Singgelapura? Hanya omong kosong Wibisana yang idealis. Kemudian kerajaan itu hanya musnah tanpa ada suatu catatan yang signifikan.

Dan ironis memang bahwa pada akhirnya ia bahkan tidak mendapat apapun dari pengorbanannya. Bahkan romantismenya kepada Sinta. Dengan sikap gentlemen menghargai keputusan Sinta untuk tidak sedikit pun tersentuh olehnya. Dengan kebijaksanaannya belajar dari Widowati. Dia masih mengambang dalam romantismenya. Dan dia mati dengan romantismenya.

Dasamuka oh dasamuka. Biarkan dunia menghujatmu, tapi setidaknya satu dua orang mengetahui apa yang telah kau perbuat untuk bangsamu untuk dharmmamu.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tinta Emas Surakarta


Banyak orang berasumsi bahwa kita baru merasakan kehilangan sesuatu ketika ia sudah jauh dari jangkauan kita. Begitu pula yang saya rasakan setelah bergumul dengan amerika dan hiruk pikuknya. Sedikit banyak terbesit kerinduan saya pada kenangan-kenangan saya dulu ketika masih di Solo. Ketika bergulat dengan hujan, panas dan segala momentum di dalamnya.

Saya sendiri mungkin hanya akan mengecap Solo untuk satu tahun ke depan. Dan tidak tahu kapan akan kembali lagi ke kota itu. Saya teringat "perjuangan" saya dulu ketika pertama kali menginjakkan kaki di buminya orang paling halus sejawa tengah ini dengan berbagai kesulitan. Saya sendiri dilahirkan di Solo, namun tidak cukup lama mengenyam hidup di kota itu. Sampai pada akhirnya saya merasakan merah hitamnya kota ini sebagai bocah Margoyudan yang bersekolah di SMA Negeri 1 Surakarta. Juga sebagai bocah kos-kosan yang selalu playon kesana kemari.

Hidup memang sebuah pembelajaran. Pun begitu dengan kehidupan saya yang baru itu. Di kota kenangan itu. Pertama kalinya saya belajar begitu banyak hal. Terlalu banyak mungkin sehingga kini itu merubah hidup saya sepenuhnya. Eeutuhnya. Sehingga bahkan saya tidak mengetahui kemana diri saya yang lama menghilang.Dari mulai idealisme hingga cara bertindak. Terlalu banyak tokoh dan figur yang menginspirasi saya. Terlalu banyak pepundhen yang semalam suntuk mungkin tidak akan sanggup selesai saya jabarkan jasanya.

Dari mulai Perbatasan Sragen- Karanganyar, sampai Cemani- Sukoharjo dan Winong Baru Boyolali terbentang figur-figur itu. Menorehkan sebuah berkas yang selalu tersimpan didalam untaian kisah nostalgia historis. Dan mencabik-cabik diri saya sehingga menuju suatu bentuk transformasi yang lebih baik.

Di balik tenda kusam Suromadu di Sondakan, terukir sebuah kenangan atas kebersamaan dan perjuangan. Mencari makan. Bersama dengan dua teman kos saya, mengarungi derasnya hujan untuk dapat mencicipi sego mawut Suromadu dengan asas BMW (Bersih, Murah, Wareg). Atau dari balik gemuruh suara gamelan di Mangkunegaran, saya lihat seorang anak SMA duduk hening menghayati dan menafsirkan pemahamannya. Yang kemudian nantinya anak itu menjadi pepundhen saya mengajarkan pada saya sikap lila legawa dan interpretasinya terhadap filsafat.

Atau dari kemegahan Sriwedari saya ingat ketika besoknya tidak ada PR, maka saya akan mengayuh sepeda melihat Wayang Orang meski kadangkala hujan turun ditengah perjalanan. Seringkali pula saya melihat wayang di TBS (Taman Budaya Surakarta) kemudian esoknya tertidur disitu hingga paginya seorang petugas menyapa saya "Bibar ningali wayang wau ndalu dek?"

Saya juga masih ingat kemana-mana selalu berjalan. Walaupun hujan selalu mengguyur kota itu. Justru dari sana saya merindukan masa-masa itu. Masa kelaparan di kos. Masa dikejar tuntutan ekonomi sebagai anak kos. Dimana saya belajar Tuhan Mahakaya dengan segala rezekinya. Karena walupun uang saya habis, pasti ada saja cara Tuhan mengirimkannya. Seperti ketika suatu saat seorang anak datang mengantarkan amplop berisi uang pada saya. Ketika saya benar-benar tidak memiliki uang bahkan untuk makan.
" Mas Gin, ini uang dari lomba debat kemarin". Jagad Dewa Bathara Gusti, njenengan Maha Welas.

Kemudian dari dinginnya pagi di Manahan, mengingatkan saya ketika pagi pelajaran Olah Raga saya akan pusing cari tumpangan. Setelah itu menyantap bubur ayam untuk sarapan bersama teman "pak ojek" saya. Satu-satunya sarapan seminggu sekali. Yaitu ketika ada pelajaran Olah Raga. Nantinya saya telat masuk kelas tambahan biologi atau mendapat muka kecut guru.

Dan dibalik nyanyian tembang lawas serta gemerlap lampu galabo saya merindukan saat-saat bersama seseorang yang darinya saya belajar ketulusan dan menghayati cinta sebagai individu muda seperti tunas yang baru tersiram air atau ulat yang hendak bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Sebuah cinta yang sudah semestinya beravatara dalam fase baru dalam penghayatan dan filosofisnya yang baru. Atau sama manisnya penghayatan itu sehingga mengubah orientasi dan filsafat cinta seluruhnya dan mentransformasikanya menuju bentuk eternalisme.

Dengan tulisan ini saya goreskan tinta emas dari sanubari saya yang terdalam sebagai ungkapan terima kasih untuk pepundhen-pepundhen, teman-teman dan orang-orang yang berharga bagi saya di Surakarta, dimana seorang Gineng Pratidina menemukan jati dirinya dan bermanifestasi memulai sebuah proses pembelajaran untuk menjadi individu seutuhnya.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Sebuah Untaian Nostalgia Historis Bocah Margoyudan


Berikut ini adalah tulisan pepundhen saya mas Rudy Wiratama. Beliau sekarang adalah Mahasiswa Komunikasi Universitas Gadjah Mada sekaligus penulis beberapa artikel tentang Wayang dan kebudayaan. Sesama rekan pencinta wayang kulit dan kebudayaan Jawa dari SMA saya dulu, SMA Negeri 1 Surakarta. Sebagai sesama insan yang mengarungi lika-liku suka duka hidup di dalam lingkungan SMA N 1 Surakarta. Sekaligus sebagai sesama insan yang merindukan masa-masa itu kembali.

September,28 2009 oleh Rudy Wiratama sahabat baik, guru sekaligus pepundhen saya.

Ehem.

Saya baru saja membuka beberapa referensi yang berkaitan dengan SMA Negeri 1 Surakarta, sepulang saya dari kota Solo untuk beberapa waktu lamanya kembali bergumul debu di belantara Yogyakarta. Dari beberapa referensi itu saya menemukan beberapa hipotesis tentang kapan berdirinya SMA Negeri 1 Surakarta tercinta ini. Ada yang berpendapat bahwa SMA Negeri 1 berdiri sezaman dengan masa pendudukan Jepang,ada pula yang menyatakan bahwa SMA Negeri 1 berdiri pada masa perjuangan kita di tahun 1945.

Namun yang pasti bahwa sebuah sumber yang dapat dipercaya adalah turunnya SK pada tanggal 15 Desember 1949 yang menandai berdirinya SMA Negeri 1 Surakarta pasca Agresi Militer II pada tahun sebelumnya, yang berarti SMA ini lebih tua empat hari dari Universitas Gadjah Mada =P (SMA ini katanya adalah SMA "Mbarep" Se-Indonesia)

SMA Negeri 1 Surakarta, pada mulanya adalah SMA perjuangan. SMA Candradimuka. SMA di mana para siswa digembleng menjadi para Gatotkaca-Gatotkaca dan Srikandi-Srikandinya Indonesia, wabil khusus bagi keluarganya masing-masing. Menurut keterangan yang didapat pula dikatakan bahwa SMA N 1 Surakarta, begitu pula Surabaya, bukanlah hasil nasionalisasi dari AMS atau MULO yang berdiri pada masa kolonial, melainkan SMA yang didirikan atas dasar prakarsa para putra bangsa.

SMA Negeri 1 Surakarta, pada kemudian hari, tumbuh dengan segenap kebanggaan, dipupuk oleh keikhlasan dan pengabdian,menjadi sebuah kekuatan yang diperhitungkan dalam kancah nasional. Berapa menteri yang dihasilkan? Berapa pejabat yang ditelorkan? Berapa dokter, insinyur, ulama' bahkan orang gila macam saya yang telah dicetak oleh SMA Negeri 1 Surakarta?

SMA Negeri 1 Surakarta, beserta seluruh penghuni dan "almarhum"siswa alias alumninya,termasuk saya, tentu saja merasa bangga dengan ini. Tiap minggu, saat upacara pasti ada saja yang maju menerima piala, piagam bahkan medali di depan seluruh hadirin. Tiap saat pasti akan meluncur kata-kata "eh, Mas A atau mbak B ki mentas juara lomba anu lho..."

Namun adakalanya kita perlu tersadar, bahwa nostalgia yang overdosed bisa menjadi racun berbahaya yang bisa membunuh kita. Bisa menjadi sebuah bisa yang mematikan bagi SMA kita tercinta sendiri.

Jauh dari lindungan pohon tua yang memayungi latar Margoyudan, jauh dari sejuknya ruangan Masjid An-Nuur yang berdiri gagah, gemilang kubah besinya diterpa cahaya matahari, saya mulai bertanya-tanya.

Kini SMA Negeri 1 Surakarta sama saja dengan badan pendidikan lainnya. Di mana kata kerakyatan dan sekolah untuk semua hanyalah simbol pemanis halaman surat kabar dan majalah saja. Di mana semua keberpihakan kepada intelektualitas dan kreatifitas, saya kira sama usangnya dengan menara lonceng yang kini menjadi basecamp OSIS setelah sebelumnya menikmati masa-masa kejayaan memiliki headquarter sendiri.

Memang tak seratus persen anggapan saya benar, karena yang namanya anggapan itu pasti subjektif. Dan subjektifitas yang diumumkan, harus siap dikritik dan dipenuhi omongan kontra.

Tapi di luar sana, mulai ada anggapan bahwa SMA 1 Surakarta mulai menjadi SMA yang cuma hidup secara formalitas. Di satu sisi kegiatan siswa seakan menjadi terkebiri atas campur tangan birokrasi, sehingga yang ada sekarang adalah semacam ketertindasan sukarela dan kemenangan para pemegang kekuasaan atas siswa. (Jangan-jangan karena kegiatan siswa mulai diendus sebagai kekuatan subversif yang bisa meledak dan menjungkirbalikkan birokrat yang bobrok sewaktu-waktu? Wallahu a'lam)

Satu ilustrasi yang menarik, ketika saya di awal kelas tiga SMA, akan mengikuti lomba pidato berbahasa Jawa, kemudian tiba-tiba dipanggil oleh pembimbing saya, seorang guru senior dengan kata: Mas, nuwun sewu ini biar sekolah diwakili oleh putranya pak T......sabar ya mas, ini dhawuh dari atasan....". Saya bisa menerima hal itu, dan berkaca bahwa saya sudah termasuk siswa yang uzur, sehingga sepantasnya saya membiarkan tunas-tunas baru tumbuh dan ngrembuyung, meneduhkan SMA N 1 Surakarta.

Saya tak habis pikir. Dari tahun ke tahun, SMA kita tercinta ini makin kehilangan militansinya. Kehilangan perbawanya. Seakan benar kata leluhur, " ageng nanging ora agung, ayem nanging ora ayom". Karena pada dasarnya Agung dan Ayom itu tidak bisa turun dari langit secara tiba-tiba, melainkan dengan mental yang samad-sinamadan, daya-dinayan, saling sokong dan saling dukung serta dikompori dengan semangat yang Spartan.

SMA kita bukanlah SMA yang "ussisa 'alas-siyasah", bukan SMA tempat intrik dan konflik, bukan SMA ajang pamer kuasa dan harta, bukan SMA sinetron tempat pameran kegantengan dan kecantikan.

SMA kita, sekali lagi tak bermaksud untuk meninggikan chauvinisme, adalah SMA yang menjadi kebanggaan, tak cuma oleh intern siswa dan alumni serta gurunya, melainkan kebanggaan semua. Kebanggaan seluruh masyarakat Surakarta.

SMA Negeri 1, saya tak mau banyak mengritik, mestinya harus tepa sarira, (selira itu artinya biawak,sarira itu artinya diri,badan. Jadi tepa selira itu sebenarnya bukan mawas diri, tapi melihat biawak,hehehe) dengan menghayati kembali Mars-nya:

SMA Negeri Satu Tercinta nan kuluhurkan
Pendidikan tunas cendekiawan setia, pembela nusa dan bangsa
Guru-muridnya kerja bersama, satya bhakti Pancasila
Tak 'kan lengah,bhakti pertiwi, sukseskan kerja pembangunan
Tetap harum, lekat di hati, SMA Satu kujunjung tinggi.....

Masjid An-Nur, pohon Ringin "MG", lapangan tengah, warung Pak Gimin, parkiran wetan, kantor guru, I'll Miss You!

SELAMAT MILAD KE-60 SMA NEGERI 1 SURAKARTA. Salam rindu dari cah ra mutu yang pernah merasakan nikmatnya bersekolah di Margoyudan....
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS