[Live as an exchange student] Part.22 -- Wawasan Internasional

Suatu hari di Taman Pringgondani kerajaan raksasa buyut Gatotkaca dulu, Togog dan Mbilung sedang bercakap-cakap dari masalah cewek, duit, hingga politik. Siang itu mereka kebetulan baru saja menonton world cup malamnya antara Jerman vs Australia. Rupanya bung Togog dan Mbilung ini lumayan modern, mereka termasuk kaskuser dan penulis blog di komunitas blogger. Akun jejaring sosial mereka pun tidak hanya friendster yang jadi komunitas alay, namun lengkap sampai facebook, myspace, twitter dan bahkan skype. Sayang nya twitter bung Togog ber-following 1467 orang sedangkan followernya hanya 23 biji saja.

Siang itu mereka rupanya sedang agak intelek membahas politik negaranya yang semrawut. Padahal biasanya yang dibahas cewek cewek dan cewek. PDKT janda kerajaan sebelah atau ikut prom night anak SMA yang mau lulusan.

Togog : Lung, mbilung..katanya taun 2022 Pringgondani mau menjadi tuan rumah piala dunia?

Mbilung : Aduh jangan percaya HOAX gan..ane mah kagak percaya deh Pringgon bakal jadi host

Togog : Kok bisa?

Mbilung : Aduh gan..harusnya ente lebih sering buka thread kaskus dong ama baca blog nya ginengsakti.blogspot.com gan...kita ini jangan kan secara materi ekonomi bisa, secara mental aje mental kita tidak berwawasan internasional.

Togog : Wah edan ente gan. Gimana tuh lengkapnya?

Mbilung : Gini gan, artinya negara kita ini belum bisa menerima pluralisme dan toleransi. Kalo ane denger kata toleransi dan pluralisme di negara ini mah HOAX doang gan jangan dipercaya. Buktinya demo dimana-mana tanpa outcome dan kontrol yang jelas. Kebebasan berpendapat sih boleh aja, tapi ya jangan keterlaluan dan berbau anarkis. Iya kan gan?

Nah ini masih dalam lingkup domestik. Belum lagi kita berbicara masalah Internasional. Kalo kita nge host Piala Dunia, bakal banyak bule datang. Dan budaya barat itu salah satunya identik dengan minum. Misal nih ya, negara Jerman. Supporter Jerman kebanyakan berselebrasi dengan meminum beer karena beer itu adalah produk lokal Jerman tercinta seperti Timlo itu produk dari Solo. Bisakah bangsa kita bermental toleransi?

Ane secara personal sih ga begitu yakin gan. Dalam hati ane pun ga setuju dengan budaya minum, tapi dalam kajian ranah budaya ini sudah beda tafsir. Budaya barat memang bagi sebagian orangnya adalah kepuasan terhadap alkohol, tapi perlu diperhatikan juga bahwa mereka pun berbudaya berbeda dalam menyikapi budayanya. Tidak seperti Pringgondani yang alkoholnya bisa ditemukan dengan mudah di warung remang-remang kemudian warga kita "mendem" dan mengamuk atau memalak uang.

Budaya sana beda gan. Alkohol diatur bener-bener. Di batasi yang namanya drinking age. Di atur distribusinya melalui prosedur yang rumit dan sistematik agar tidak salah distribusi ke kaum-kaum belum cukup usia atau kaum "minor in possesion". Kontrol regulasinya pun ketat sperti dengan di tegakannya aturan "D.U.A (Driving Under Alcohol)" dan lain sebagainya.

Mungkin bagi mereka minum adalah hal wajar, namun bagi sebagian besar bangsa kita minum masih hal yang tabu dan tidak benar secara sosial. Oke gan. Ane ga akan berdebat masalah itu. Itu masalah moral dan keyakinan masing-masing, tapi yang ingin ane soroti adalah jika bangsa Pringgondani ini memang sudah berwawasan Internasional, toleransi mereka sudah tinggi. Ane beajar waktu ane ke Amerika gan. Ane pernah tanya ke salah satu teman ane yang kebetulan bukan peminum dan berpikir minum itu adalah sesuatu yg kurang tepat. Ane tanya gini :

"Kamu kenapa ga minum seperti kebanyakan temen-temen? Bukannya kamu sudah secara hukum legal?"

Jawabannya buset keren bener gan. Ane sampe gabisa nafas beberapa saat.

Dia jawab gini :

"Bagi saya, sesuatu yang di legalkan bukan berarti bermoral"

Jika saya telusuri dan renungi lagi memang bener gan. Kalau agan-agan pernah baca buku Nicolo Machiavelli tentang pengambilan keputusan yang bersifat pragmatik dan teori lain tentang pengambilan keputusan yang bersifat moral,
Bang Machiavelli berkata dalam bukunya bahwa tidak semua keputusan bersifat moral adalah keputusan terbaik namun di sisi lain keputusan yang bersifat pragmatik pasti bertentangan dengan keputusan moral.

Ilustrasinya begini gan. Mungkin agan agan ini sering dengar.

Ada 4 pasien, satu membuthkan jantung, satu membutuhkan liver dan satu membutuhkan kornea. Yang satunya lagi adalah pasien yang sehat bugar dan berencanauntuk periksa kesehatan.

Sebagai dokter, apakah agan akan mengambil jantung, liver dan kornea psien sehat bugar untuk mengobati dan menyelamatkan 3 pasien lainnya?


atau membiarkan apa adanya?

Apapun jawabannya adalah salah satu dr keputusan yang bersifat moral atau pragmatik.

Begitu pula hukum Barat. Tata aturan mereka bersifat moral dan pragmatik. Bukan hanya moral melulu. Namun intinya adalah toleransi sebagai fondasi dan dasar fundamental mereka gan, karena itulah kemudian negara mereka aman dan damai.

Amerika sendiri adalah negara relijius gan. Dalam konteks ini, relijius agama Kristen dan Katolik. Mereka aktif dalam kegerejaan dan lain sebagainya. Namun tata aturan pemerintah nya adalah ; Separation between the church and State, yang artinya mereka memisahkan urusan keagamaan dengan tata negara. Pemasangan spanduk "Selamat Natal" di Gedung Senat atau DPR mereka misalnya adalah sesuatu yang menyalahi hukum ini. Bisa dibayangkan jika Pringgondani begini? Bubrah. Orang-orang pada demo.

Amerika tidak demikian, walaupun mereka negara relijius dengan hukum sekuler, mereka tetap bersemangat menjalankan kepercayaan mereka dan menghormati hukum yang ada sehingga masih tegak menjadi bangsa yang damai sampai hari ini.

Begitulah gan sekilas tentang Wawasan Internasional, intinya bangsa kita belum bisa bertoleransi seperti bangsa besar lain nya. Selama di Amerika saya belajar hal ini gan. Bahwa bangsa yang besar adalah dimulai dari hati mereka yang berbesar, menerima pluralisme dan membangun harmoni. Berkebebasan namun bertanggung jawab, dan bertindak sebagai masyarakat madani.

Mau contoh lagi gan? Oke saya masih punya.

Di Amerika semuanya diukur dengan tenaga dan kerja gan. Etos kerja dijunjung tinggi. Ga pernah Maine sampai Washington ane lihat ada pengemis di Amerika gan. Bukan karena mereka negara kaya. Amerika pun punya orang-orang yg hidup di garis kemiskinan. Namun orang-orang tadi bekerja apapun gan. Atau mengadakan yang namanya fundraiser. Ga ada anak SD SMP SMA yang mau perpisahan kelas tinggal minta sumbangan orang tua gitu aja, mereka selain meminta sumbangan juga mengerjakan sesuatu misal menjual permen. Satu permen di hargai 3 dolar yang mana di dalam 3 dolar itu sudah mengandung sumbangan karen harga permen secara standar tidak segitu. Disitulah poinnya, mereka tidak hanya sekadar meminta, namun ada etos kerja di dalamnya. Saya juga pernah melihat orang dipinggir jalan dengan hujan lebat sambil bermantel dan membawa tulisan " I WILL WORK FOR FOOD"

Mereka pun menghargai orang-orang begitu gan. Bukan malah dihardik pintu ditutup. Ada orang yg meminta fundraiser misal anak-anak SD berjualan permen begitu mereka malah senang. Didukung habis-habisan. Akhirnya outcome nya pun kembali ke masyarakat mereka lagi yang menjadi masyarakat yang harmonis dan saling membantu.

Togog : Oh gitu ya kang, pantes......

Belum lama kemudian seorang janda cantik jelita melintas di taman tersebut. Pakaiannya tank top dan hot pants dengan hape Blackberry ditangannya sambil si janda itu BBM-an.

Togog : Eh kang ada target nih target, buruan serbu kita mintain PIN Blackberry nya.


Mbilung : Wah ini juga slah satu contoh tidak berwawasan Internasional nih. Bahas politik kalah sama bahas janda lewat.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "[Live as an exchange student] Part.22 -- Wawasan Internasional"