[Live as an exchange student] Part.13 - Beberapa Hal yang Mungkin Saya Akan Gila ketika Pulang Nanti



Kadangkala saya berpikir tentang sesuatu disini yang sudah agak mendarah daging yang mungkin ketika pulang ke indonesia nanti saya akan merasa reverse cultural shock. Suatu istilah yang didefinisikan sebagai culture shock yang justru terjadi ketika kembali dari suatu lingkup budaya lain. Kasus yang aneh memang. Namun bukan sesuatu yang sulit untuk dijumpai. saya sendiri contoh riilnya haha. Here we go :

1) Pop dan soda.

Baru dikatakan teramerikanisasi jika anda sudah mulai teradiksi dengan yang namanya pop dan soda. Sehari akan menghabiskan paling tidak satu atau dua botol. Jika anda mengerjakan PR sambil nonton TV sambil minum soda dan sambil melihat american football itu sudah gejala-gejala amerikanisasi haha. Pop dan soda seperti sudah menjadi kebutuhan pokok bagi setiap orang amerika. Saya tidak pernah rasanya menjumpai kulkas orang amerika kosong soda. Itu sebabnya pula banyak kasus obesitas di amerika serikat. Karena kurangnya niatan untuk mengurangi kalori dalam soda. Karena gula yang terkandung dalam soda, mengandung banyak kalori yang dapat menyebabkan pemekaran badan secara sempurna. Sekalipun labelnya diet. Soda juga dipercaya menjadikan negara ini pengidap kasus diabetes dan kanker yang berada dalam ambang yang signifikan. Maka saudara-saudara sekalian tolong, tolong sekali menghindari soda.
(Kok jadi ceramah -,-)
Yang saya bayangkan, bagaimana nanti nasib adiksi saya ketika pulang nanti? Boro-boro deh beli coca-cola nanti kalau pulang, bisa makan aja sukur :p

(Wooo, lupa ceramahnya sendiri -,-)


2) Nafsu Makan Super.

Saya sendiri tidak tahu apa yang aneh terhadap sistem saya. Alasan pertama, sekarang sepertinya nasi sudah susah untuk ditelan. Pernah sekali, ketika lama tidak mendapat nasi, saya mencoba memakannya. Kemudian mencret-mencret dan enek haha. Mampus bagaimana nanti kalo pulang? Saya harap yang salah adalah nasinya :p

Kedua, karena nafsu makan saya sudah tidak terkontrol lagi. Tau sendiri rasanya ketika makan burger sebagai snack, padahal anda terbiasa memakan nasi, hasil yang didapat ialah anda tidak segan-segan memakan burger 3 atau 4 ketika sudah terbiasa dengannya. Begitu pula yang terjadi dengan saya. Ketika ke McDonald atau Burger King akan memesan minimal 3 dan maksimal unlimited (haha buju buset ga inget masa lalu) kemudian teman saya akan berkata :

" Whaaaaat? Are you serious gin? With that little body? I doubt it"

haha saya cuma bisa ngakak sebagai jawaban saya.
Mungkin di dalam hati dia membatin :
" Wuedan wong indonesia tibakno le mangan ora beda koyo gajah ngamuk"

Rupanya pemerintah indonesia mungkin salah mencomot putra-putri nya karena saya sang "Badoger" ini yang justru jadi miniatur indonesia dalam hal makan juga ironisnya.
Ingin rasanya ketika ada bule yang membatin seperti itu akan saya timpali :

" Ojo nyalahke indonesia, ndez. Iki sing salah uwonge. Bejan kena wong sing gawene ngamuk le mangan" haha.



3) Siaran TV

Asal tahu saja, di amerika siaran TV bisa lebih dari 30 channel minimal. Dan saya rasa semuanya program bermutu. Terspesifikasi dan unik. Seperti ada History Channel, Food Network, BBC, CNN, Nicklodeon, USA Movies dan lain sebagainya. tapi kabar baiknya bahwa kita tidak perlu membayar untuk siaran TV. Di amerika, we do. Kita membeli channel tertentu dengan berlangganan siaran TV per bulan. Coba kita bayangkan ibu-ibu rumah tangga indonesia jika sistem ini diterapkan. Tagihan membengkak dan akibatnya anak menjadi tumpuan stress. Berdampak pada degradasi sosial masyarakat (wahaha argumen apa-apaan itu). Tapi ya dapetnya setimpal. Kualitas siaran TV nya tidak main-main. Bukan saja sebagai media entertainment namun sudah mengarah jauh pada batsan ranah edukasi dan didaksi moral. Atau dalam beberapa kondisi juga sebagai sarana pendidikan kwarganegaraan dan politik secara interaktif.

Ketika pulang nanti mungkin saya akan berurusan dengan tidak lebih dari 10 channel TV haha. What a heckkkk? Yang lebih dari 30 saja saya bisa bosan apalagi yang kurang dari 10? (namanya juga manusia, mas)
*haha emang lo dikos punya TV gin? gaya! paling ntar liat TV juga lunjak-lunjak kaya manusia purba*

4) Internet ekstra cepat

Bukan rahasia lagi jika di amerika anda sangatlah tidak sulit menemukan internet dan aksesnya. Saya membuka satu page saja mak lap sebelum mata berkedip sudah berganti haha. Di indonesia saya membuka internet sambil saya tinggal makan bakso juga bisa :p haha itu mah karena komputernya virusen.

Tapi kabar buruknya adalah anda tidak bisa mendownload apapun. Karena dianggap melanggar copyrights. Jika tertangkap, hubungannya adaah dengan pihak FBI dan Federal. Kurang ngeri apa coba? haha. Tertangkapnya pun juga tidak akan sulit karena setiap komputer terdaftar pada database setiap local goverment atau state. Kecuali anda sangat pintar. Sayangnya saya bodoh dan terlalu jujur (haha gombal kalo yang jujurnya, kalo bisa nge hack juga taruhan mesti mau).

5)Masak memasak

Jaman di Indonesia saya mah kalo masak ribet. Lama pula. Iya kalo bener, pernah sekali keracunan masakan sendiri sampe sakit dan absen sekolah satu hari haha. Amerika tinggal colok microwave tit jadi. Makanannya juga sudah didesain untuk instan jadi orang bego seperti saya masih bisa makan tanpa keracunan :p

6) Suhu

Disini saya sempat mengalami -18 derajat celcius sebagai suhu terdingin dan 27 derajat sebagai suhu terpanas. Suhu rata-rata biasanya berkisar antara 15 - 25. Itu saja jaket saya sudah jadi teman baik saya sampai tidur juga kalo ga ada jaket besoknya mau ngegerakin tangan ga bisa. Summer saja saya masih jalan-jalan diluar dengan jaket, sehingga ditegur banyak tetangga sebagai "bule gila" haha. *Saya disini kan bule bro :p* Nanti pulang ke indonesia dengan suhu 37-38 derajat mau jadi apa saya? Mau pake baju seksi emang? haha takut pada naksir nanti.

Begitulah sekelumit cerita tentang budaya dan konteksnya. Memang benar bahwa budaya sudah seharusnya dipahami secara kumulatif konsepsional yang dalam artian harus dapat beradaptasi dengan konsep dan gagasan baru agar tidak begitu saja mati dan menghilang ditengah lautan konsep dimana kita sudah tidak mampu mendefinisikannya lagi sebagai bagian dari identitas dan menempatkannya dalam pemahaman yang salah. Sama seperti bangsa Indian yang "punah" dan mati karena ketidakmampuannya berpijak harmonis dengan ketergantungan mereka terhadap Buffalo dan menempatkan primordialisme mereka diatas lautan konsep itu. Selalu ada definisi. Bahkan ketika kita menghendakinya terlahir dari suatu gagasan originalitas. Hanya tergantung, bagaimana sekarang kita mendefinisikannya. Dan memahaminya sebagai bentuk pengejewantahan suatu evolusi.

- USA, 03 Desember 2009 -
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Berbicara mengenai Jati Diri dan Identitas Bangsa

Suatu hari saya mendengar alunan lagu Indonesia Raya terngiang di kepala saya. Kemudian sejenak saya berpikir tentang bangsa ini. Betapa mirisnya keadaan sekarang ini. Dibawah tikaman tragedi, ironisme dan stereotip. Bencana yang tidak kunjung berhenti. Huru-hara yang selalu bergejolak fluktuatif. Protes massa dan demonstrasi yang sudah jauh diartikan sebagai anarkisme. Keadaan ekonomi yang masih saja stagnan seolah merasa nyaman dengan posisinya dan enggan berhentak maju.

Sudah kah kita mendefinisikan negara kita? Sudah kah kita bercita-cita dan berideologi? Sebagai bangsa Indonesia. Secara formalitas mungkin kita berasumsi sudah. Yaitu tertuang dalam UUD 1945 dan Pancasila.

Namun sudah kah kita mengahayati filsafat dan pemikiran filosofis didalamnya? Sekali lagi, sudahkah?Apa ideologi kita? Pancasila? Pancasila yang seperti apa?

Sudahkah masing-masing individu menghayati kalimat "Ketuhanan Yang Maha Esa?" Jika masih ada pembunuhan dan intrik-intriknya. Sudahkah setiap individu menghayati arti "Kemanusiaan yang beradab?" Jika masih banyak yang biadab. Pada dirinya sendiri, pada orang lain atau bahkan pada bangsa ini. Biadab dengan membiarkan diri terjerumus dalam tindak inkonstitusional. Biadab dengan merusak hak-hak dan legalitas orang lain. Atau biadab dengan ketidakpedulian terhadap masa depan haluan bangsa ini sebagai masyarakat yang apatis.

Mari sejenak kita merenung. Apa yang bisa kita perbuat untuk bangsa ini. Demi pengahayatan terhadap "Persatuan Indonesia", demi keselarasan "Musyawarah Mufakat" yang bermuara pada "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia"

Kita tidak perlu ribut berbicara soal ekonomi global 2020 atau visi Indonesia masa depan jika kita masih belum bisa menemukan jati diri bangsa ini. Disadari atau tidak bangsa ini telah menjadi bangsa yang kehilangan Jatidirinya. Bangsa yang tidak tahu mengetahui rupa dan karakter mereka sendiri. Bangsa yang belum bisa mendefinisikan kemauan dan ideologi mereka. Bangsa yang masih belum menerima pluralisme dan harmoni sosial. Kita sudah terlalu banyak menerima teori, tentang masyarakat madani, tentang good governance, tentang pembangunan masyarakat thayyibah. Namun sekali lagi, kita masih pada tataran syariah untuk memahami filosofi dan aplikasinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Saya sepenuhnya paham bahwa tidak ada bangsa yang sempurna. Karena suatu bangsa adalah himpunan manusia yang hidup bersama. Dalam naungan geopolitik, latar belakang kultural dan historis yang serupa atau identik (Otto Bauer, Ernest Rinan dan Gibernau dalam pandangannya mengenai bangsa) . Sekali lagi, mereka adalah himpunan manusia, yang dalam kenyataan dan takdirnya manusia tidak pernah luput dari kompleksitas dan kesalahan. Namun, ada nilai-nilai yang menjadi tujuan komoditi dan prioritas yang seharusnya diselenggarakan paling tidak. Yang mana nilai-nilai itu sendiri tidak lain merupakan referendum dan keinginan bersama masyrakat tersebut. Sebagai hak dasar manusia, hak dasar hidup bermasyarakat dan membangun kedaulatan yang disebut Negara (Friedrich Hegel dan Roger H Soltau dalam pandangannya terhadap universalisme kedaulatan) Pertanyaannya adalah sudahkah Indonesia memenuhi keinginan dan referendum rakyatnya?

Jauh dari balik tirai ironisme itu, kita bahkan belum mampu menghadirkan legalitas dan jati diri bangsa ini untuk dikenali bangsa lain. Tidak seperti Jepang dengan tradisionalisme dan modernisme mereka yang berjalan bersamaan, Amerika dengan kapitalisme dan liberalisme mereka, Inggris dengan norma dan kebijakan politik diplomatis mereka. China, Kuba dan Soviet dengan sosialisme mereka. Lalu apakah kita ini? Pancasila seharusnya. Namun ia masih tertidur dipersemaiannya yang agung. Seperti Kumbakarna yang tertidur untuk Alengka. Kumbakarna yang agung yang terlupakan.

Mari kita benahi bangsa ini. Kita definisikan Pancasila. Kita hayati lebih dari sekedar mengahafalkan sila kesatu sampai kelima. Kita resapi kaidah filosofisnya. Dan kita tuturkan anak cucu kita, bahwa Indonesia adalah bangsa yang agung. Sejajar dengan bangsa-bangsa besar lain didunia. Dengan pemahaman mereka, dengan penghayatan mereka terhadap jati diri dan ideologinya. Saya percaya pada segenap rakyat Indonesia dengan sikap welas asih yang masih tersimpan kuat dalam sanubari mereka sebagai bangsa yang luhur dan berbudi :)

" Muga sing Indonesia isih kelingan Indonesiane, sing Jawa kelingan Jawane :) "
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

[Live as an exchange student] Part.12 -- Sebuah Cerita dari Belahan Dunia lain





16 November 2009 ~ Pagi bersinar cerah diiringi salju yang turun dengan lebat di awal winter. Hawa diluar begitu dingin, menggoda insan-insan manusia untuk tetap terbaring nyenyak di kasur-kasur empuk mereka. Di pagi buta yang dingin di belahan amerika, saya bersiap memakai pakaian kebesaran saya sebagai orang Jawa. Mempersiapkan jarit, stagen, keris, selop, beskap dan lain sebagainya. Di pagi yang buta. Bahkan sebelum mentari datang menyapa belahan dunia itu. Ditengah deru salju diluar jendela kamar saya. Saya lihat diri saya di cermin. Terngiang akan betapa lamanya saya tidak memakai outfit ini selama terbuai dengan hiruk pikuk Amerika Serikat. Hari ini saya kencangkan keris saya, saya rapikan beskap yang ada di badan saya. Karena pada hari ini saya akan bercerita tentang negeri saya yang damai nun jauh terbelah samudra.

Pertengahan November adalah International Education Week di Amerika Serikat. Suatu momentum yang tepat bagi saya, bercerita tentang Indonesia, negara yang saya banggakan. Atau secara familiar sering disebut presentasi. Dengan busana Jawa lengkap melekat di badan saya, saya sudah menunggu lama momen ini. Dengan selop yang terpasang di dua permukaan kaki saya. Di tengah Winter, ditengah suhu -5 derajat celcius di luar sana. Tanpa Coat, tanpa syal. Tidak lucu rasanya berbusana Jawa dengan Coat atau syal. Saya berpakaian sebagaimana saya. Semangat dan eksitasi saya itulah yang akan tetap membuat saya hangat ditengah winter ini. Kemudian saya akan dengan bangganya bercerita bahwa negara tempat saya berasal adalah negara yang hangat yang tanpa kita perlu khawatir kedinginan. Beberapa teman saya yang saya jumpai di Hall Way menyapa ramah
" Gin outfitmu bagus sekali"
Atau beberapa orang yang baru kesambet juga menyapa saya
"Gin kamu kelihatan seksi deh hari ini"
Batin saya : "Ya ampuuun ini orang tadi sarapan apa bilang saya seksi -,-"


Ada juga yang menyapa agak aneh,
" Aren't your feet cold? You're the one of the craziest person in this school. It is snowing man"
Lalu dengan santainya saya jawab
"Nope. I am fine" *dengan senyum pertanda jari kaki yang tidak bisa digerakkan* haha
Beberapa poin teman saya itu benar, karena tidak semestinya berselop ketika semua orang memakai boot tebal mereka haha.

Sejenak kemudian saya sudah berada dikelas. Saya mulai presentasi dengan memperkenalkan pakaian saya. Dari filosofis blangkon dengan tonjolannya dibelakang sebagai tanda kesederhanan sampai selop yang membuat saya dikatai crazy.

Beberapa saat kemudian mereka akan bersorak "wooow. enaknya tidak ada salju"
Saya lupa mengatakan pada kalian guys, kebanyakan orang amerika tidak suka salju. Saya sendiri pun tidak. Awalnya memang menyenangkan. tapi lama-kelamaan merasakan juga ketidaknyamanan karena salju. Setiap berjalan akan licin, kaki tenggelam dalam salju, susah bernafas, dan hidung terasa basah setiap saat. Bibir juga akan berdarah jika anda tidak memakai lip balm. 5 menit tanpa melindungi tangan anda sudah cukup membuatnya susah digerakkan. Jadi, ketika saya mengatakan bahwa Indonesia panas setiap saat, maka mereka akan berteriak-teriak ingin datang.

Kemudian saya akan bercerita tentang Indonesia dan alamnya yang indah, dan beberapa dari mereka akan mengangkat tangan dan bertanya,
"Di Indonesia ada tivi sama cellphone ga?"
"Di Indonesia kamu sekolah naik kuda?"
Batin saya menjerit haha. Engga deng, batin saya ketawa.
Maklum, orang amerika tidak begitu pintar dalam geografi. Mereka bahkan tidak tahu dimana itu Indonesia. Beberapa saya tanyai dan mereka menebak itu ada di bagian tengah Afrika.
Yaampuuun, nebak benuanya bener aja engga -,-

Sejurus setalah itu, saya tampilkan tarian jawa dan suara gamelan. Beberapa dari mereka ada yang ketakutan haha. Orang amerika tuh tingkahnya aneh-aneh ya? :p Setelah itu saya tampilkan wayang kulit. Saya mendalang untuk beberapa saat. Dengan bahasa Ingrris tentunya. Selesei pertunjukkan mereka berdecak kagum dan memberikan sorakan keras sampai mengundang semua siswa datang ke kelas kami kala itu. Beberapa saat setelah itu saya bagikan wayang-wayangan kecil sebagai souvenir untuk mereka. Semua anak berebut. Beberapa protes dan marah-marah tidak dapat wayang-wayangan itu haha. Yang mendapatkan wayang-wayangan saya, benda itu mereka bawa kemana-mana. Mereka pamerkan ke teman-temannya yang lain yang tidak dapat. Sehingga satu sekolah sindrom wayang kulit. Guru Sejarah Amerika saya bahkan semenjak itu mengajar menggunakan wayang kulit yang saya berikan.

Disisi lain, saya juga berikan beberapa dari mereka pakaian batik. Keesokan harinya saya melihat seperti parade orang kondangan teman-teman saya memakai batik-batik itu. Entah mengapa, terharu saya melihatnya. Melihat bangsa lain begitu terkagum-kagum dan menikmati kebudayaan Indonesia. Sekaligus miris, melihat bangsa Indonesia sendiri justru tidak menikmati apa yang mereka miliki :(

Hari itu saya telah membuat suatu sejarah. Sejarah kecil memang. Tidak sebesar Uni Soviet ketika mengalahkan Jerman sebagai tanda berakhirnya perang di Eropa, namun paling tidak, hari itu saya telah mengubah beberapa pikiran manusia-manusia dari belahan dunia lain. Mengenalkan mereka dengan negeri bocah ingusan ini yang nun jauh disana. Dan mereka akan bercerita pada anak cucunya, bahwa seorang anak, pada hari itu datang. Dan menceritakan bagian lain dunia kepada mereka.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Paradoksal Matematika dan Kajiannya Dalam Lingkup Filsafat

Bukan sesuatu yang mengherankan jika matematika dikatakan sebuah paradoks. Atau sebaliknya didefinisikan sebagai inner-dimension (ruang lingkup dimensi) yang mencakup baik kebenaran secara utuh maupun kontradiksinya. Baik kebenaran secara koherensi, korespondensi, proporsional, performatif, proposisi atau bahkan yang bersifat paradigma. Atau mungkin sebaliknya tentang ketidakmampuannya mengequivalensikan suatu aksioma. Seperti yang diungkapkan Kurt Godel dalam teorema ketidak-lengkapan-nya (Godel's Incompleteness Theorem) bahwa disaat yang sama, aksioma berimplikasi logis pada kompleksitas dan menambah ruang lingkup. Yang berakibat pada ketidakmampuan memecahkan sesuatu seperti : kasus Twin Prime, Konjektur Goldbach, bahkan Hipotesis Riemann. Karena adanya beberapa aksioma yang saling berkontradiksi dan mempertanyakan satu sama lain.

Yang hendak saya angkat disini ialah sorotan saya terhadap matematika dari sudut pandang ilmu filsafat yang pada hakikatnya adalah suatu konsep dasar berpikir logis dan mengkritisi suatu masalah. Dua konsep dasar yang pada hakikatnya sama penggunaannya pada matematika. Bukan untuk membantah, namun hanya menambahkan beberapa algoritma pemikiran filosofis.

Matematika terlahir dari suatu pendefinisian abstraksi manusia terhadap sistem. Yang kemudian nantinya sistem itu sendiri diterminologikan sebagai numerik. Sebuah gagasan yang memang benar-benar bersifat filosofis dan abstrak. Didapatkan dari suatu pendefinisian dan pengaksiomaan yang mendalam. Sebenarnya salah juga saya mengatakan pengaksiomaan. Karena pada hakikatnya aksioma sudah terlahir dengan sendirinya sebagai konsekuensi logis dan ide dasar suatu ekspansi terhadap sistem lain.

Yang paling menggugah saya adalah tulisan Whitehead dan Russell dalam bukunya Principia Mathematica yang mengemukakan pembuktian dari 1+1 = 2.
Dari langkah awal mereka melakukan suatu pendefinisian terhadap istilah yang kemudian menelurkan terminologi. 1,2,3 dan seterusnya itu sendiri merupakan sebuah pendefinisan.
1 sebagai definisi awal dan 2 sebagai definisi suksesor 1. Atau :


Dengan definisi, 1 = {ø}, dan 2 = {ø,{ø}}, menambahkan satu ke semua nomor, memiliki artian membentuk kesatuan dari nomor tersebut dan set yang mengandung nomor itu sendiri.

Jadi, 1+1 = kesatuan (union) {ø} dan {{ø}}, i.e. {ø,{ø}} = 2.

secara equivalen, 0 = ø, dan secara umum n = {0,1,2,...,n-1}.

lalu n+1 = n union {n} = (0,1,2,...,n}.

jadi 1+1 = {0} union {1} = {0,1} = 2.

atau juga sejalan dengan aksioma Peano :

Bilangan natural terdiri dari satu set N bersama dengan "sucessor function" f() (fungsi aksen)
1. Kemudian ada anggota unik bilangan N tersebut , yaitu "1", yang merupakan fungsi bijeksi dari N-{1} ke N.
2. Jika, X, mengandung 1 dan bagaimanapun mengandung , n, dari N, maka ia juga mengandung f(n), kemudian X= N. (ini adalah "induksi")


Suatu langkah awal-wal pendefinisian bukan?

Dan seperti yang saya katakan tadi, beberapa diantaranya membentuk suatu non equivalensi yang kemudian dinamakan "Fallacies". Berbeda dengan kasus diatas tentang Twin Prime, Konjektur Goldbach dan Hipotesis Riemann yang lebih terfokus pada kontroversi di antara aksiomanya melainkan satu kasus ringan pada konsep dasar yang dipahami secara parsial. Atau diterjemahkan dalam ungkapan lain bukan karena kesalahan pada aksioma melainkan kesalahan pada struktur dan sistematikanya. Perhatikan contoh Fallacies berikut :

(Fallacy I)

Pernyataan 1 + 1 = 1

a = 1
b = 1

a = b
a2 = b2
a2 - b2 = 0
(a-b)(a+b) = 0
(a-b)(a+b)/(a-b) = 0/(a-b)
1(a+b) = 0
(a+b) = 0
1 + 1 = 0
2 = 0
1 = 0
1 + 1 = 1

dikatakan Falacy karena tidak seharusnya saling menghilangkan 0

(Falacy II)

Pernyataan 2 = 1

a = b
a2 = ab
a2 - b2 = ab-b2
(a-b)(a+b) = b(a-b)
a+b = b
b+b = b
2b = b
2 = 1

Dikatakan Falacy juga karena tidak seharusnya mencoret 0 di kedua ruas

(Falacy III)

Pernyataan 2 = 1

-2 = -2
4 - 6 = 1 - 3
4 - 6 + 9/4 = 1 - 3 + 9/4
(2 - 3/2)2 = (1 - 3/2)2
2 - 3/2 = 1 - 3/2
2 = 1

Dikatakan Falacy karena tidak memenuhi prinsip kuadrat walau terlihat identik benar

Begitulah matematika dan paradoksalnya. Kompleksitas dan kekurangannya. Definisi dan aksiomanya. Serta misteri yang masih belum terpecahkannya dengan" kontadiksinya".

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Ironisme Dasamuka


Tidak pun seorang raja mahabesar, hidup memang tidak mengenal belas kasihan. Ia mencabik semua yang pernah ada dalam lingkupan dimensinya. Tanpa terkecuali. Bukan hidup yang mencabiknya sesungguhnya. Melainkan sistem yang ada dalam suatu kata yang didefinisikan sebagai hidup itu sendiri. Dengan belatinya yang bermata seribu yang menusuk kemana pun, dimana pun, siapa pun. Dengan ironismenya.

Bahkan seorang Dasamuka yang memerintah Tribawana (walaupun secara ofisial dianggap memerintah Alengka) dengan Pancasonanya yang konon dapat membuainya dalam keabadian selama jasadnya menyentuh tanah, tidak kuasa bertolak dari suatu ironisme. Tidak seorang pun nyatanya.

Ironis, karena ia mati dalam hujatan. Dalam stereotip yang dibungkus doktrin yang dibenarkan. Memang benar, becik ketitik ala ketara. Lebih mudah melihat kejelekan orang lain daripada mengakui keistimewaan seseorang. Sing ala luwih ketara lan sing becik mung ketok setitik. Lebih mudah mencintai Ramawijaya dengan welas asihnya daripada belajar dari seorang Dasamuka.

Apakah dunia tidak lagi berpikir, kejayaannya, romantismenya dan kegigihan tekadnya? Tidakkah dunia sedikit saja mengahrgai usahanya? Minimal dia sudah menepati dharmmanya. Sebagai makhluk yang ditakdirkan terlahir sebagai raksasa. Kode etik raksasa, yang perlu diterjemahkan dalam dogmanya sendiri. Bukan ditafsirkan serupa dengan dogma kesatriaan.

Apakah dunia sudah lupa tentang pengorbanan Dasamuka untuk rakyatnya, Alengka semasa pangerannya dulu. Dia bertapa beribu-ribu tahun mengorbankan 9 kepalanya pada dewata. Sebagai tanda bakti dan untuk kesaktian, yang bermuara pada kejayaan Alengka.

Apakah dunia sudah lupa dengan sejarahnya sendiri, bahwa semenjak kemusnahan Alengka, tidak ada lagi kemakmuran sejaya jaman Dasamuka dimana rumah penduduk saja bertembokkan emas. Kemudian ia lari dari takdirnya dan mengubah namanya menjadi Singgelapura. Singgelapura? Hanya omong kosong Wibisana yang idealis. Kemudian kerajaan itu hanya musnah tanpa ada suatu catatan yang signifikan.

Dan ironis memang bahwa pada akhirnya ia bahkan tidak mendapat apapun dari pengorbanannya. Bahkan romantismenya kepada Sinta. Dengan sikap gentlemen menghargai keputusan Sinta untuk tidak sedikit pun tersentuh olehnya. Dengan kebijaksanaannya belajar dari Widowati. Dia masih mengambang dalam romantismenya. Dan dia mati dengan romantismenya.

Dasamuka oh dasamuka. Biarkan dunia menghujatmu, tapi setidaknya satu dua orang mengetahui apa yang telah kau perbuat untuk bangsamu untuk dharmmamu.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tinta Emas Surakarta


Banyak orang berasumsi bahwa kita baru merasakan kehilangan sesuatu ketika ia sudah jauh dari jangkauan kita. Begitu pula yang saya rasakan setelah bergumul dengan amerika dan hiruk pikuknya. Sedikit banyak terbesit kerinduan saya pada kenangan-kenangan saya dulu ketika masih di Solo. Ketika bergulat dengan hujan, panas dan segala momentum di dalamnya.

Saya sendiri mungkin hanya akan mengecap Solo untuk satu tahun ke depan. Dan tidak tahu kapan akan kembali lagi ke kota itu. Saya teringat "perjuangan" saya dulu ketika pertama kali menginjakkan kaki di buminya orang paling halus sejawa tengah ini dengan berbagai kesulitan. Saya sendiri dilahirkan di Solo, namun tidak cukup lama mengenyam hidup di kota itu. Sampai pada akhirnya saya merasakan merah hitamnya kota ini sebagai bocah Margoyudan yang bersekolah di SMA Negeri 1 Surakarta. Juga sebagai bocah kos-kosan yang selalu playon kesana kemari.

Hidup memang sebuah pembelajaran. Pun begitu dengan kehidupan saya yang baru itu. Di kota kenangan itu. Pertama kalinya saya belajar begitu banyak hal. Terlalu banyak mungkin sehingga kini itu merubah hidup saya sepenuhnya. Eeutuhnya. Sehingga bahkan saya tidak mengetahui kemana diri saya yang lama menghilang.Dari mulai idealisme hingga cara bertindak. Terlalu banyak tokoh dan figur yang menginspirasi saya. Terlalu banyak pepundhen yang semalam suntuk mungkin tidak akan sanggup selesai saya jabarkan jasanya.

Dari mulai Perbatasan Sragen- Karanganyar, sampai Cemani- Sukoharjo dan Winong Baru Boyolali terbentang figur-figur itu. Menorehkan sebuah berkas yang selalu tersimpan didalam untaian kisah nostalgia historis. Dan mencabik-cabik diri saya sehingga menuju suatu bentuk transformasi yang lebih baik.

Di balik tenda kusam Suromadu di Sondakan, terukir sebuah kenangan atas kebersamaan dan perjuangan. Mencari makan. Bersama dengan dua teman kos saya, mengarungi derasnya hujan untuk dapat mencicipi sego mawut Suromadu dengan asas BMW (Bersih, Murah, Wareg). Atau dari balik gemuruh suara gamelan di Mangkunegaran, saya lihat seorang anak SMA duduk hening menghayati dan menafsirkan pemahamannya. Yang kemudian nantinya anak itu menjadi pepundhen saya mengajarkan pada saya sikap lila legawa dan interpretasinya terhadap filsafat.

Atau dari kemegahan Sriwedari saya ingat ketika besoknya tidak ada PR, maka saya akan mengayuh sepeda melihat Wayang Orang meski kadangkala hujan turun ditengah perjalanan. Seringkali pula saya melihat wayang di TBS (Taman Budaya Surakarta) kemudian esoknya tertidur disitu hingga paginya seorang petugas menyapa saya "Bibar ningali wayang wau ndalu dek?"

Saya juga masih ingat kemana-mana selalu berjalan. Walaupun hujan selalu mengguyur kota itu. Justru dari sana saya merindukan masa-masa itu. Masa kelaparan di kos. Masa dikejar tuntutan ekonomi sebagai anak kos. Dimana saya belajar Tuhan Mahakaya dengan segala rezekinya. Karena walupun uang saya habis, pasti ada saja cara Tuhan mengirimkannya. Seperti ketika suatu saat seorang anak datang mengantarkan amplop berisi uang pada saya. Ketika saya benar-benar tidak memiliki uang bahkan untuk makan.
" Mas Gin, ini uang dari lomba debat kemarin". Jagad Dewa Bathara Gusti, njenengan Maha Welas.

Kemudian dari dinginnya pagi di Manahan, mengingatkan saya ketika pagi pelajaran Olah Raga saya akan pusing cari tumpangan. Setelah itu menyantap bubur ayam untuk sarapan bersama teman "pak ojek" saya. Satu-satunya sarapan seminggu sekali. Yaitu ketika ada pelajaran Olah Raga. Nantinya saya telat masuk kelas tambahan biologi atau mendapat muka kecut guru.

Dan dibalik nyanyian tembang lawas serta gemerlap lampu galabo saya merindukan saat-saat bersama seseorang yang darinya saya belajar ketulusan dan menghayati cinta sebagai individu muda seperti tunas yang baru tersiram air atau ulat yang hendak bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Sebuah cinta yang sudah semestinya beravatara dalam fase baru dalam penghayatan dan filosofisnya yang baru. Atau sama manisnya penghayatan itu sehingga mengubah orientasi dan filsafat cinta seluruhnya dan mentransformasikanya menuju bentuk eternalisme.

Dengan tulisan ini saya goreskan tinta emas dari sanubari saya yang terdalam sebagai ungkapan terima kasih untuk pepundhen-pepundhen, teman-teman dan orang-orang yang berharga bagi saya di Surakarta, dimana seorang Gineng Pratidina menemukan jati dirinya dan bermanifestasi memulai sebuah proses pembelajaran untuk menjadi individu seutuhnya.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Sebuah Untaian Nostalgia Historis Bocah Margoyudan


Berikut ini adalah tulisan pepundhen saya mas Rudy Wiratama. Beliau sekarang adalah Mahasiswa Komunikasi Universitas Gadjah Mada sekaligus penulis beberapa artikel tentang Wayang dan kebudayaan. Sesama rekan pencinta wayang kulit dan kebudayaan Jawa dari SMA saya dulu, SMA Negeri 1 Surakarta. Sebagai sesama insan yang mengarungi lika-liku suka duka hidup di dalam lingkungan SMA N 1 Surakarta. Sekaligus sebagai sesama insan yang merindukan masa-masa itu kembali.

September,28 2009 oleh Rudy Wiratama sahabat baik, guru sekaligus pepundhen saya.

Ehem.

Saya baru saja membuka beberapa referensi yang berkaitan dengan SMA Negeri 1 Surakarta, sepulang saya dari kota Solo untuk beberapa waktu lamanya kembali bergumul debu di belantara Yogyakarta. Dari beberapa referensi itu saya menemukan beberapa hipotesis tentang kapan berdirinya SMA Negeri 1 Surakarta tercinta ini. Ada yang berpendapat bahwa SMA Negeri 1 berdiri sezaman dengan masa pendudukan Jepang,ada pula yang menyatakan bahwa SMA Negeri 1 berdiri pada masa perjuangan kita di tahun 1945.

Namun yang pasti bahwa sebuah sumber yang dapat dipercaya adalah turunnya SK pada tanggal 15 Desember 1949 yang menandai berdirinya SMA Negeri 1 Surakarta pasca Agresi Militer II pada tahun sebelumnya, yang berarti SMA ini lebih tua empat hari dari Universitas Gadjah Mada =P (SMA ini katanya adalah SMA "Mbarep" Se-Indonesia)

SMA Negeri 1 Surakarta, pada mulanya adalah SMA perjuangan. SMA Candradimuka. SMA di mana para siswa digembleng menjadi para Gatotkaca-Gatotkaca dan Srikandi-Srikandinya Indonesia, wabil khusus bagi keluarganya masing-masing. Menurut keterangan yang didapat pula dikatakan bahwa SMA N 1 Surakarta, begitu pula Surabaya, bukanlah hasil nasionalisasi dari AMS atau MULO yang berdiri pada masa kolonial, melainkan SMA yang didirikan atas dasar prakarsa para putra bangsa.

SMA Negeri 1 Surakarta, pada kemudian hari, tumbuh dengan segenap kebanggaan, dipupuk oleh keikhlasan dan pengabdian,menjadi sebuah kekuatan yang diperhitungkan dalam kancah nasional. Berapa menteri yang dihasilkan? Berapa pejabat yang ditelorkan? Berapa dokter, insinyur, ulama' bahkan orang gila macam saya yang telah dicetak oleh SMA Negeri 1 Surakarta?

SMA Negeri 1 Surakarta, beserta seluruh penghuni dan "almarhum"siswa alias alumninya,termasuk saya, tentu saja merasa bangga dengan ini. Tiap minggu, saat upacara pasti ada saja yang maju menerima piala, piagam bahkan medali di depan seluruh hadirin. Tiap saat pasti akan meluncur kata-kata "eh, Mas A atau mbak B ki mentas juara lomba anu lho..."

Namun adakalanya kita perlu tersadar, bahwa nostalgia yang overdosed bisa menjadi racun berbahaya yang bisa membunuh kita. Bisa menjadi sebuah bisa yang mematikan bagi SMA kita tercinta sendiri.

Jauh dari lindungan pohon tua yang memayungi latar Margoyudan, jauh dari sejuknya ruangan Masjid An-Nuur yang berdiri gagah, gemilang kubah besinya diterpa cahaya matahari, saya mulai bertanya-tanya.

Kini SMA Negeri 1 Surakarta sama saja dengan badan pendidikan lainnya. Di mana kata kerakyatan dan sekolah untuk semua hanyalah simbol pemanis halaman surat kabar dan majalah saja. Di mana semua keberpihakan kepada intelektualitas dan kreatifitas, saya kira sama usangnya dengan menara lonceng yang kini menjadi basecamp OSIS setelah sebelumnya menikmati masa-masa kejayaan memiliki headquarter sendiri.

Memang tak seratus persen anggapan saya benar, karena yang namanya anggapan itu pasti subjektif. Dan subjektifitas yang diumumkan, harus siap dikritik dan dipenuhi omongan kontra.

Tapi di luar sana, mulai ada anggapan bahwa SMA 1 Surakarta mulai menjadi SMA yang cuma hidup secara formalitas. Di satu sisi kegiatan siswa seakan menjadi terkebiri atas campur tangan birokrasi, sehingga yang ada sekarang adalah semacam ketertindasan sukarela dan kemenangan para pemegang kekuasaan atas siswa. (Jangan-jangan karena kegiatan siswa mulai diendus sebagai kekuatan subversif yang bisa meledak dan menjungkirbalikkan birokrat yang bobrok sewaktu-waktu? Wallahu a'lam)

Satu ilustrasi yang menarik, ketika saya di awal kelas tiga SMA, akan mengikuti lomba pidato berbahasa Jawa, kemudian tiba-tiba dipanggil oleh pembimbing saya, seorang guru senior dengan kata: Mas, nuwun sewu ini biar sekolah diwakili oleh putranya pak T......sabar ya mas, ini dhawuh dari atasan....". Saya bisa menerima hal itu, dan berkaca bahwa saya sudah termasuk siswa yang uzur, sehingga sepantasnya saya membiarkan tunas-tunas baru tumbuh dan ngrembuyung, meneduhkan SMA N 1 Surakarta.

Saya tak habis pikir. Dari tahun ke tahun, SMA kita tercinta ini makin kehilangan militansinya. Kehilangan perbawanya. Seakan benar kata leluhur, " ageng nanging ora agung, ayem nanging ora ayom". Karena pada dasarnya Agung dan Ayom itu tidak bisa turun dari langit secara tiba-tiba, melainkan dengan mental yang samad-sinamadan, daya-dinayan, saling sokong dan saling dukung serta dikompori dengan semangat yang Spartan.

SMA kita bukanlah SMA yang "ussisa 'alas-siyasah", bukan SMA tempat intrik dan konflik, bukan SMA ajang pamer kuasa dan harta, bukan SMA sinetron tempat pameran kegantengan dan kecantikan.

SMA kita, sekali lagi tak bermaksud untuk meninggikan chauvinisme, adalah SMA yang menjadi kebanggaan, tak cuma oleh intern siswa dan alumni serta gurunya, melainkan kebanggaan semua. Kebanggaan seluruh masyarakat Surakarta.

SMA Negeri 1, saya tak mau banyak mengritik, mestinya harus tepa sarira, (selira itu artinya biawak,sarira itu artinya diri,badan. Jadi tepa selira itu sebenarnya bukan mawas diri, tapi melihat biawak,hehehe) dengan menghayati kembali Mars-nya:

SMA Negeri Satu Tercinta nan kuluhurkan
Pendidikan tunas cendekiawan setia, pembela nusa dan bangsa
Guru-muridnya kerja bersama, satya bhakti Pancasila
Tak 'kan lengah,bhakti pertiwi, sukseskan kerja pembangunan
Tetap harum, lekat di hati, SMA Satu kujunjung tinggi.....

Masjid An-Nur, pohon Ringin "MG", lapangan tengah, warung Pak Gimin, parkiran wetan, kantor guru, I'll Miss You!

SELAMAT MILAD KE-60 SMA NEGERI 1 SURAKARTA. Salam rindu dari cah ra mutu yang pernah merasakan nikmatnya bersekolah di Margoyudan....
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

[Live as an exchange student] Part.11 -- American Classes Selayang Pandang version


Mungkin sudah saya uraikan diatas bahwa pengambilan kelas di Amerika adalah menggunakan dasar sisitem credit. Seperti sks pada kuliah mungkin. Ada 7 mata pelajaran yang diajarkan setiap harinya. Beberapa ada kelas requirement (diwajibkan) dan kelas lainnya adalah oposional. Tidak seperti di Indonesia yang mana antara hari satu dengan lainnya kita mendapatkan jadwal yang berbedA, di Amerika setiap harinya jadwal adalah itu-itu saja. Ya tadi 7 mata pelajaran tersebut. Hari aktif sekolah adalah 5 hari dari hari Senin hingga Jum'at. Sabtu - Minggu adalah libur. Sekolah diawali dari jam 8 selesai jam 15.30 sore. Di sela-sela itu kami mendapatkan jam makan siang di cafetaria sekolah sekitar pukul 13.00 - 13.30. Menunya bermacam-macam dan bervariasi setiap harinya. Ada Burger, Pizza, Spagheti, Tacos dan sebagainya . Jam makan siang tidak harus di cafetaria sekolah, siswa bisa saja pergi ke McDonald atau bahkan pulang ke rumah, asal pada saat waktu yang ditentukan sudah kembali ke sekolah.

Hal yang saya kagum adalah, sebelum memulai pelajaran Amerika selalu "bersumpah" pada bendera. Bahwa akan mengabdi di bawah satu bangsa, dan Kemuliaan Tuhan untuk Amerika. Mungkin sama halnya dengan upacara bendera di Indonesia setiap senin. Bedanya, mereka melakukan setiap hari walau hanya beberapa menit. Di setiap kelas selalu ada bendera Amerika Serikat. Amerika Serikat adalah bangsa yang berpatriotisme tinggi. Mereka tidak membiarkan doktrin negara manapun diserap anak-anak mereka. Suatu hal yang patut dijadikan contoh mungkin bagi Indonesia. Amerika adalah bangsa yang kritis, namun mereka mengkritisi bangsanya bukan dengan cara yang anarkis dan sarkastik. Kritik adalah untuk membangun, bukan merusak citra.

Di Amerika, requirement class saya adalah mengambil satu subject matematika, satu subject sains, English dan United States History. Lainnya adalah kelas bebas. Saya mengambil Aljabar, Kimia, English, US History, Gizi , Marketing dan American Goverment.

Pengajaran di Amerika bukan menggunakan White board apalagi Black board. Tapi menggunakan layar touch screen yang terhubung dari komputer menggunakan proyektor. Spidolnya pun spidol touch screen yang bisa berganti-ganti warna tanpa harus mengubah spidol, cukup klik warna maka akan sendirinya ganti. Mau menghapus tinggal customize ukuran penghapus dan klik terhapus. Ulangan tidak memakai kertas, tetapi siswa diberikan seperti handphone yang terhubung ke layar touch screen tadi dan tinggal memencet saja handphone-handphone-nan itu haha. Mirip alat "ask audience"nya Who wants to be Millionaire dan jawaban bisa disurvey.

Pengajaran juga sangat interaktif, siswa terlibat aktif dalam diskusi dan sebagainya. Anak amerika memang memiliki semangat belajar yang tinggi. Ketika sudah di kelas, mereka tidak akan membicarakan hal lain kecuali pelajaran. Ketika tidak mengerti langsung angkat tangan dan bertanya. Kadang pertanyaannya sangat konyol, tapi apapun itu mereka angkat bicara. PR dicocokkan masing-masing siswa, dan pada akhirnya disuruh menyebutkan berapa kesalahan mereka. Dengan jujur mereka mengatakan 27 atau 21 dari 30 soal. Tidak seperti di Indonesia, anak-anak mungkin sudah dengan liciknya memanipulasi salah mereka :p Kelas pun dibuat seaplikatif mungkin. Misalnya, saya mengambil kelas marketing. Project class saya adalah menjual suatu produk dalam 3 bulan. Dan dibuat kompetisi siapa yang prosentase keuntungannya paling tinggi. Ketika jam pelajaran marketing, siswa benar-benar terjun ke lapangan menjual produk mereka dengan strategi pemasaran masing-masing. Saya sendiri berjualan nasi goreng Indonesia didekat Main Street bersama teman saya dari India yang dulu pernah saya sebutkan di post.an sebelumnya. Dikelas marketing juga kami menganalisis produk-produk dengan strategi mereka. Setiap minggu kami melakukan yang namanya Tasting Test untuk produk makanan. Guru marketing saya akan membawakan sampel makanan dan kami akan menganalisis harga, rasa, dan sistem packaging produk tersebut. Hal yang paling saya suka dari kelas ini hehe. Karena sering kali Tasting Test ini adalah makanan-makanan mahal, seperti Pizza atau Burger. Kami membandingkan Pizza dari Pizza Hut dan Domino's dan sebagainya. Saya mengambil 4 potong Pizza Hut dan 4 potong Domino's :p Teman saya ada yang mengambil hampir satu dus nya masing-masing Pizza. Kemudian guru saya menegur :
"Hei, hei ini Tasting Test mas. Kok banyak sekali ambilnya"
Teman saya : "Sense of Tasting saya kurang bagus bu. Jadi saya perlu banyak sampel"
Batin saya : "Ah, ngeleeeeeeeeeeeeees"
Tapi ya toh dibiarkan saja oleh guru saya itu karena memang banyak Pizza yang tersedia.

Kelas yang paling saya senangi adalah matematika dan kimia. *Padahal dulu di Indonesia ga akur akur banget sama sains :p * Karena di kelas itu saya tidak perlu mikir dan malamnya tidak perlu belajar. Kurikulum Indonesia terlalu sempurna untuk membuat anak Indonesia terlihat pintar ditengah-tengah anak Amerika haha. *Terima kasih guruku* Sedangkan kelas yang paling saya benci adalah English, United States History dan American Goverment. Di pelajaran Bahasa Inggris saya mungkin adalah yang palig bodoh sekelas. Setiap hari kerjaannya menganalisis cerpen, puisi dan sebagainya seperti pelajaran bahasa Indonesia. Padahal cerpen, puisi atau novel Inggris ditulis dalam vocabulary satra yang rumit dan saya tidak pernah paham sebelumnya. Jadi setiap baca novel yang lain sudah mendapat 15 halaman, saya masih 2 halaman karena habis untuk menterjemahkan arti kata. Sedangkan di American Goverment saya harus mempelajari konstitusi yang mana bahasa constitusi sangatlah rumit. Yaitu Bahasa Inggris kaku dengan grammar yang super perfect. Yah~begitulah.




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

[Live as an exchange student] Part.10 -- Kekatrok'an Anak Indonesia


Saya suka tertawa sendiri mengingat beberapa kejadian yang menimpa saya dan teman-teman Indonesia lainnya dari mulai keberangkatan hingga sampai di negara ini. Kejadian yang mungkin saya istilahkan sebagai kekatrok'an haha. Atau kealay'an mungkin untuk beberapa orang. Atau apalah namanya. Orang yang paling gaul sekalipun di rombongan kami masih saja alay :p Senang juga menyaksikan teman-teman saya menjadi katrok. Tapi perih juga dibilang katrok gantian haha.

Dimulai dari masalah toilet. Hal pertama yang membuat kami takjub adalah toilet di Frankfurt, Jerman yang menggunakan teknologi sensor. Jadi kamu hanya tinggal mak kluyur saja sebenarnya.. Tapi namanya barang baru liat, pasti kaget. Saya coba cari dimana tombolnya. Saya pegang semua bagian panel toilet. Masih saja tidak keluar air. Lalu saya pukul-pukulkan tangan saya seperti ketika tivi rusak. Mash juga belum keluar. Saking stressnya akhirnya saya tinggal pergi begitu saja. Ah bodo amat, salah sendiri toilet aneh. Tiba-tiba baru beranjak sebentar mak byuurrrrrrr air dengan sendirinya keluar menyapu bersih toilet. Pemikiran saya masih saja katrok.
"Tuh kan, habis digedor jalan. Toilet Jerman kok ketinggalan jaman sih"
kemudian saya perhatikan lagi secara seksama ada seperti sinar merah didekat panel. Daritadi saya berpikir :
"Ini merah-merah apa sih? Kamera pengawas? Masa di toilet dikasih kamera segala? Mana ditaruhnya pas pula"
Usut punya usut ternyata itu adalah kamera sensorik ultramerah yang akan menyapu kotoran di toilet dengan otomatis. Eit, kekatrokan belum berakhir. Teman-teman saya ternyata pada akhirnya mengetahui hal itu juga. Dan secara bergantian bermain-main dengan toilet itu. Ada yang duduk sebentar terus berdiri dan mak byurrrrrrrrrrr. Ada yang duduk setngah berdiri, air tidak keluar. Kemudian berdiri dan mak byuuuuuuuurrrrrrr lagi. Ada yang menusuk-nusuk mata inframerah. Ada yang mengabadikan toilet tersebut ke kamera.
"Ih bagus ya, ih bagus ya"
batin saya :
"Perasaan mau ke amerika, kok yo katrooook"

Hal katrok kedua adalah shower. Kami menginap di Hotel Hilton sebelum berangkat ke tujuan masing-masing. Hotel Hilton adalah Hotel Bintang 7 yang sangat mewah. Segala didalamnya serba aneh bagi kami. Di hotel itu juga pertama kalinya saya merasakan kunci kamar dengan kartu. Sebelum masuk kamar, saya gesekkan kartu itu kemudian pintu membuka otomatis. Kekatrokan kecil dimulai, saya gesek-gesekkan kartu itu berulang kali. Merasa betapa bagusnya kartu ini. Kemudian saya berlagak seperti kartun digimon di tivi dengan mengumpamakan kartunya sebagai kartu digimon haha. Sampai seseorang teman dari Turkey lewat didepan kamar saya dan menyeringai aneh, baru saya masuk kamar :p
Kemudian saking panasnya saya ingin langsung mandi. Kamar mandinya bath tub dengan shower ternyata. Batin saya :
"Alah, kamar mandi gini. Gw tau caranya cuy. Ga bakal katrok nih kali ini"
Kemudian saya hampiri tombol shower dan saya pencet. TIT. Tidak ada reaksi.
"Mampus katrok gw kumat"
Kemudian saya otak-atik. Saya anggap upaya saya sudah maksimal. Saya berjuang selama satu jam menganalisis, memberi hipotesis dan bereksperimen. Masih saja gagal. Akhrinya teori sosial saya gunakan. Saya tanya teman kamar di depan saya. Eit, jangan lupa. Kesempatan main kartu digimon :p haha
Kemudian saya tanya :
" Cuy, lo nyalain showernya gimana?"

Teman saya menjawab:
"Katro lu. Diputer cuy keran yang atas."

Saya kembali ke kamar. Saya putar keran itu ke atas, masih juga belum nyala. Akhirnya 15 menit bermain putar-putar, saya seret teman saya untuk bertanggungjawab hahaha.
"Udah gw puter nih. Masih ngadat"
"Iya nih. Rusak kali cuy"
"Iya apa ya? ok deh tak tanya resepsionis"
Akhirnya saya bertanya ke resepsionis dan dengan sangat professional dia merespon:
"Ok. Akan kami kirimkan ahli mekanik kami ke kamar anda"
"Buseett. Shower doang pake kirim ahli mekanik"

Akhirnya saa kembali ke kamar bersama ahli mekanik tadi dan langsung menuju bathroom. Disana, sang ahli mekanik hanya mengamati 4 detik. Sungguh hebat. Dan dengan sigap tangannya meraih suatu tombol. TIT.
"Yeee, ini mah belum dipence atuh" katanya.
Mampuuus gw mati malu cuy hahaha.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

[Live as an exchange student] Part.9 -- Ramadhan di Amerika Serikat

Betapa bodohnya saya justru melupakan tulisan satu ini untuk saya tulis disini. Karena mungkin beberapa dari tulisan saya terdahulu ada yang saya sangkut pautkan dengan bulan puasa di Amerika Serikat. Nah, dengan entri ini saya buat satu uraian yang lebih mendalam tentang suka duka bulan puasa di Amerika.

Kebetulan ramadhan bertepatan dengan musim summer di Amerika Serikat. Yang berarti saya harus mengalami waktu puasa yang lebih panjang karena pada summer matahari bersinar lebih lama. Sekitar jam 8 malam mungkin baru terbenam. Jadi, jam 19.00 atau 19.30 itu masih terang benderang. Suat keadaan yang aneh bagi siapapun yang baru pertama kali mengalaminya. Hari terasa lebih berat dan kurang istirahat. Beruntunglah yang mendapat winter ketika ramadhan seperti di Inggris karena mereka hanya akan berpuasa 9-10 jam. Sebenarnya perlu diklarifikasi juga apa yang saya katakn beruntung tadi hehe. Bagi sebagian orang, dengan adanya puasa di musim summer seperti ini artinya ramadhan lebih panjang dan tentunya lebih banyak membawa berkah :)

Orang Amerika sangat menghargai ibadah kita yang satu ini. Mereka tidak akan makan di depan kita jika mengetahui kita berpuasa. Justru mereka terkagum-kagum dengan ketaatan orang muslim yang satu ini. Saya kira tadinya berpuasa di Amerika akan sangat sulit sekali. Tapi ternyata karena kerendahhatian mereka, saya bisa menikmati bulan puasa selancar di negeri sendiri *ga lancar-lancar banget sih*

Tapi memang tidak selamanya berpuasa disini lancar. Karena seringkali saya merindukan apa yang orang-orang bilang "buber" atau "buka bersama". Saya iri dengan teman-teman saya yang di Indonesia gembar-gembor buber sana buber sini melalui facebook. Saya juga merindukan ketika tiap kali saya sahur, akan ada acara komedi yang menemani sahur saya. Atau iklan di tivi-tivi yang menyatakan "Selamat Menunaikan Ibadah Puasa". Kerinduan saya beralasan karena mungkin saya hanya 0.01 % muslim di kota saya. Islamic center terdekat ada di Denver, capitol city yang berjarak kira-kira 3 jam perjalanan.

Saya harus buka dan sahur dengan hamburger atau junk food lainnya. Rasanya kurang sreg saja. Biasa makan burger sebagai snack. Sekarang malah cuma makan burger. Berasa belum makan saja. Sahur bangun sendiri. Kelontengan sendiri. Makan sendiri. Tidak ada bunyi anak-anak bermain tomrengan sambil berteriak "sahuuuuuuuuuur sahurrrr" lagi. Tidak ada suara masjid mendengungkan ayat suci. Benar-benar hening.

Yang membuat saya lebih nratap lagi adalah lebaran. Karena bisa pulang pun tidak. Padahal teman-teman gembar-gembor di facebook akan pergi ke inilah itulah. Mimpi saya, saya hanya ingin pergi ke Denver lebaran nanti. Bagaimanapun caranya. Saya ingin bertemu saudara-saudara muslim disana. Denver. Denver. Denver.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS