[Live as an exchange student] Part.11 -- American Classes Selayang Pandang version


Mungkin sudah saya uraikan diatas bahwa pengambilan kelas di Amerika adalah menggunakan dasar sisitem credit. Seperti sks pada kuliah mungkin. Ada 7 mata pelajaran yang diajarkan setiap harinya. Beberapa ada kelas requirement (diwajibkan) dan kelas lainnya adalah oposional. Tidak seperti di Indonesia yang mana antara hari satu dengan lainnya kita mendapatkan jadwal yang berbedA, di Amerika setiap harinya jadwal adalah itu-itu saja. Ya tadi 7 mata pelajaran tersebut. Hari aktif sekolah adalah 5 hari dari hari Senin hingga Jum'at. Sabtu - Minggu adalah libur. Sekolah diawali dari jam 8 selesai jam 15.30 sore. Di sela-sela itu kami mendapatkan jam makan siang di cafetaria sekolah sekitar pukul 13.00 - 13.30. Menunya bermacam-macam dan bervariasi setiap harinya. Ada Burger, Pizza, Spagheti, Tacos dan sebagainya . Jam makan siang tidak harus di cafetaria sekolah, siswa bisa saja pergi ke McDonald atau bahkan pulang ke rumah, asal pada saat waktu yang ditentukan sudah kembali ke sekolah.

Hal yang saya kagum adalah, sebelum memulai pelajaran Amerika selalu "bersumpah" pada bendera. Bahwa akan mengabdi di bawah satu bangsa, dan Kemuliaan Tuhan untuk Amerika. Mungkin sama halnya dengan upacara bendera di Indonesia setiap senin. Bedanya, mereka melakukan setiap hari walau hanya beberapa menit. Di setiap kelas selalu ada bendera Amerika Serikat. Amerika Serikat adalah bangsa yang berpatriotisme tinggi. Mereka tidak membiarkan doktrin negara manapun diserap anak-anak mereka. Suatu hal yang patut dijadikan contoh mungkin bagi Indonesia. Amerika adalah bangsa yang kritis, namun mereka mengkritisi bangsanya bukan dengan cara yang anarkis dan sarkastik. Kritik adalah untuk membangun, bukan merusak citra.

Di Amerika, requirement class saya adalah mengambil satu subject matematika, satu subject sains, English dan United States History. Lainnya adalah kelas bebas. Saya mengambil Aljabar, Kimia, English, US History, Gizi , Marketing dan American Goverment.

Pengajaran di Amerika bukan menggunakan White board apalagi Black board. Tapi menggunakan layar touch screen yang terhubung dari komputer menggunakan proyektor. Spidolnya pun spidol touch screen yang bisa berganti-ganti warna tanpa harus mengubah spidol, cukup klik warna maka akan sendirinya ganti. Mau menghapus tinggal customize ukuran penghapus dan klik terhapus. Ulangan tidak memakai kertas, tetapi siswa diberikan seperti handphone yang terhubung ke layar touch screen tadi dan tinggal memencet saja handphone-handphone-nan itu haha. Mirip alat "ask audience"nya Who wants to be Millionaire dan jawaban bisa disurvey.

Pengajaran juga sangat interaktif, siswa terlibat aktif dalam diskusi dan sebagainya. Anak amerika memang memiliki semangat belajar yang tinggi. Ketika sudah di kelas, mereka tidak akan membicarakan hal lain kecuali pelajaran. Ketika tidak mengerti langsung angkat tangan dan bertanya. Kadang pertanyaannya sangat konyol, tapi apapun itu mereka angkat bicara. PR dicocokkan masing-masing siswa, dan pada akhirnya disuruh menyebutkan berapa kesalahan mereka. Dengan jujur mereka mengatakan 27 atau 21 dari 30 soal. Tidak seperti di Indonesia, anak-anak mungkin sudah dengan liciknya memanipulasi salah mereka :p Kelas pun dibuat seaplikatif mungkin. Misalnya, saya mengambil kelas marketing. Project class saya adalah menjual suatu produk dalam 3 bulan. Dan dibuat kompetisi siapa yang prosentase keuntungannya paling tinggi. Ketika jam pelajaran marketing, siswa benar-benar terjun ke lapangan menjual produk mereka dengan strategi pemasaran masing-masing. Saya sendiri berjualan nasi goreng Indonesia didekat Main Street bersama teman saya dari India yang dulu pernah saya sebutkan di post.an sebelumnya. Dikelas marketing juga kami menganalisis produk-produk dengan strategi mereka. Setiap minggu kami melakukan yang namanya Tasting Test untuk produk makanan. Guru marketing saya akan membawakan sampel makanan dan kami akan menganalisis harga, rasa, dan sistem packaging produk tersebut. Hal yang paling saya suka dari kelas ini hehe. Karena sering kali Tasting Test ini adalah makanan-makanan mahal, seperti Pizza atau Burger. Kami membandingkan Pizza dari Pizza Hut dan Domino's dan sebagainya. Saya mengambil 4 potong Pizza Hut dan 4 potong Domino's :p Teman saya ada yang mengambil hampir satu dus nya masing-masing Pizza. Kemudian guru saya menegur :
"Hei, hei ini Tasting Test mas. Kok banyak sekali ambilnya"
Teman saya : "Sense of Tasting saya kurang bagus bu. Jadi saya perlu banyak sampel"
Batin saya : "Ah, ngeleeeeeeeeeeeeees"
Tapi ya toh dibiarkan saja oleh guru saya itu karena memang banyak Pizza yang tersedia.

Kelas yang paling saya senangi adalah matematika dan kimia. *Padahal dulu di Indonesia ga akur akur banget sama sains :p * Karena di kelas itu saya tidak perlu mikir dan malamnya tidak perlu belajar. Kurikulum Indonesia terlalu sempurna untuk membuat anak Indonesia terlihat pintar ditengah-tengah anak Amerika haha. *Terima kasih guruku* Sedangkan kelas yang paling saya benci adalah English, United States History dan American Goverment. Di pelajaran Bahasa Inggris saya mungkin adalah yang palig bodoh sekelas. Setiap hari kerjaannya menganalisis cerpen, puisi dan sebagainya seperti pelajaran bahasa Indonesia. Padahal cerpen, puisi atau novel Inggris ditulis dalam vocabulary satra yang rumit dan saya tidak pernah paham sebelumnya. Jadi setiap baca novel yang lain sudah mendapat 15 halaman, saya masih 2 halaman karena habis untuk menterjemahkan arti kata. Sedangkan di American Goverment saya harus mempelajari konstitusi yang mana bahasa constitusi sangatlah rumit. Yaitu Bahasa Inggris kaku dengan grammar yang super perfect. Yah~begitulah.




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

[Live as an exchange student] Part.10 -- Kekatrok'an Anak Indonesia


Saya suka tertawa sendiri mengingat beberapa kejadian yang menimpa saya dan teman-teman Indonesia lainnya dari mulai keberangkatan hingga sampai di negara ini. Kejadian yang mungkin saya istilahkan sebagai kekatrok'an haha. Atau kealay'an mungkin untuk beberapa orang. Atau apalah namanya. Orang yang paling gaul sekalipun di rombongan kami masih saja alay :p Senang juga menyaksikan teman-teman saya menjadi katrok. Tapi perih juga dibilang katrok gantian haha.

Dimulai dari masalah toilet. Hal pertama yang membuat kami takjub adalah toilet di Frankfurt, Jerman yang menggunakan teknologi sensor. Jadi kamu hanya tinggal mak kluyur saja sebenarnya.. Tapi namanya barang baru liat, pasti kaget. Saya coba cari dimana tombolnya. Saya pegang semua bagian panel toilet. Masih saja tidak keluar air. Lalu saya pukul-pukulkan tangan saya seperti ketika tivi rusak. Mash juga belum keluar. Saking stressnya akhirnya saya tinggal pergi begitu saja. Ah bodo amat, salah sendiri toilet aneh. Tiba-tiba baru beranjak sebentar mak byuurrrrrrr air dengan sendirinya keluar menyapu bersih toilet. Pemikiran saya masih saja katrok.
"Tuh kan, habis digedor jalan. Toilet Jerman kok ketinggalan jaman sih"
kemudian saya perhatikan lagi secara seksama ada seperti sinar merah didekat panel. Daritadi saya berpikir :
"Ini merah-merah apa sih? Kamera pengawas? Masa di toilet dikasih kamera segala? Mana ditaruhnya pas pula"
Usut punya usut ternyata itu adalah kamera sensorik ultramerah yang akan menyapu kotoran di toilet dengan otomatis. Eit, kekatrokan belum berakhir. Teman-teman saya ternyata pada akhirnya mengetahui hal itu juga. Dan secara bergantian bermain-main dengan toilet itu. Ada yang duduk sebentar terus berdiri dan mak byurrrrrrrrrrr. Ada yang duduk setngah berdiri, air tidak keluar. Kemudian berdiri dan mak byuuuuuuuurrrrrrr lagi. Ada yang menusuk-nusuk mata inframerah. Ada yang mengabadikan toilet tersebut ke kamera.
"Ih bagus ya, ih bagus ya"
batin saya :
"Perasaan mau ke amerika, kok yo katrooook"

Hal katrok kedua adalah shower. Kami menginap di Hotel Hilton sebelum berangkat ke tujuan masing-masing. Hotel Hilton adalah Hotel Bintang 7 yang sangat mewah. Segala didalamnya serba aneh bagi kami. Di hotel itu juga pertama kalinya saya merasakan kunci kamar dengan kartu. Sebelum masuk kamar, saya gesekkan kartu itu kemudian pintu membuka otomatis. Kekatrokan kecil dimulai, saya gesek-gesekkan kartu itu berulang kali. Merasa betapa bagusnya kartu ini. Kemudian saya berlagak seperti kartun digimon di tivi dengan mengumpamakan kartunya sebagai kartu digimon haha. Sampai seseorang teman dari Turkey lewat didepan kamar saya dan menyeringai aneh, baru saya masuk kamar :p
Kemudian saking panasnya saya ingin langsung mandi. Kamar mandinya bath tub dengan shower ternyata. Batin saya :
"Alah, kamar mandi gini. Gw tau caranya cuy. Ga bakal katrok nih kali ini"
Kemudian saya hampiri tombol shower dan saya pencet. TIT. Tidak ada reaksi.
"Mampus katrok gw kumat"
Kemudian saya otak-atik. Saya anggap upaya saya sudah maksimal. Saya berjuang selama satu jam menganalisis, memberi hipotesis dan bereksperimen. Masih saja gagal. Akhrinya teori sosial saya gunakan. Saya tanya teman kamar di depan saya. Eit, jangan lupa. Kesempatan main kartu digimon :p haha
Kemudian saya tanya :
" Cuy, lo nyalain showernya gimana?"

Teman saya menjawab:
"Katro lu. Diputer cuy keran yang atas."

Saya kembali ke kamar. Saya putar keran itu ke atas, masih juga belum nyala. Akhirnya 15 menit bermain putar-putar, saya seret teman saya untuk bertanggungjawab hahaha.
"Udah gw puter nih. Masih ngadat"
"Iya nih. Rusak kali cuy"
"Iya apa ya? ok deh tak tanya resepsionis"
Akhirnya saya bertanya ke resepsionis dan dengan sangat professional dia merespon:
"Ok. Akan kami kirimkan ahli mekanik kami ke kamar anda"
"Buseett. Shower doang pake kirim ahli mekanik"

Akhirnya saa kembali ke kamar bersama ahli mekanik tadi dan langsung menuju bathroom. Disana, sang ahli mekanik hanya mengamati 4 detik. Sungguh hebat. Dan dengan sigap tangannya meraih suatu tombol. TIT.
"Yeee, ini mah belum dipence atuh" katanya.
Mampuuus gw mati malu cuy hahaha.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

[Live as an exchange student] Part.9 -- Ramadhan di Amerika Serikat

Betapa bodohnya saya justru melupakan tulisan satu ini untuk saya tulis disini. Karena mungkin beberapa dari tulisan saya terdahulu ada yang saya sangkut pautkan dengan bulan puasa di Amerika Serikat. Nah, dengan entri ini saya buat satu uraian yang lebih mendalam tentang suka duka bulan puasa di Amerika.

Kebetulan ramadhan bertepatan dengan musim summer di Amerika Serikat. Yang berarti saya harus mengalami waktu puasa yang lebih panjang karena pada summer matahari bersinar lebih lama. Sekitar jam 8 malam mungkin baru terbenam. Jadi, jam 19.00 atau 19.30 itu masih terang benderang. Suat keadaan yang aneh bagi siapapun yang baru pertama kali mengalaminya. Hari terasa lebih berat dan kurang istirahat. Beruntunglah yang mendapat winter ketika ramadhan seperti di Inggris karena mereka hanya akan berpuasa 9-10 jam. Sebenarnya perlu diklarifikasi juga apa yang saya katakn beruntung tadi hehe. Bagi sebagian orang, dengan adanya puasa di musim summer seperti ini artinya ramadhan lebih panjang dan tentunya lebih banyak membawa berkah :)

Orang Amerika sangat menghargai ibadah kita yang satu ini. Mereka tidak akan makan di depan kita jika mengetahui kita berpuasa. Justru mereka terkagum-kagum dengan ketaatan orang muslim yang satu ini. Saya kira tadinya berpuasa di Amerika akan sangat sulit sekali. Tapi ternyata karena kerendahhatian mereka, saya bisa menikmati bulan puasa selancar di negeri sendiri *ga lancar-lancar banget sih*

Tapi memang tidak selamanya berpuasa disini lancar. Karena seringkali saya merindukan apa yang orang-orang bilang "buber" atau "buka bersama". Saya iri dengan teman-teman saya yang di Indonesia gembar-gembor buber sana buber sini melalui facebook. Saya juga merindukan ketika tiap kali saya sahur, akan ada acara komedi yang menemani sahur saya. Atau iklan di tivi-tivi yang menyatakan "Selamat Menunaikan Ibadah Puasa". Kerinduan saya beralasan karena mungkin saya hanya 0.01 % muslim di kota saya. Islamic center terdekat ada di Denver, capitol city yang berjarak kira-kira 3 jam perjalanan.

Saya harus buka dan sahur dengan hamburger atau junk food lainnya. Rasanya kurang sreg saja. Biasa makan burger sebagai snack. Sekarang malah cuma makan burger. Berasa belum makan saja. Sahur bangun sendiri. Kelontengan sendiri. Makan sendiri. Tidak ada bunyi anak-anak bermain tomrengan sambil berteriak "sahuuuuuuuuuur sahurrrr" lagi. Tidak ada suara masjid mendengungkan ayat suci. Benar-benar hening.

Yang membuat saya lebih nratap lagi adalah lebaran. Karena bisa pulang pun tidak. Padahal teman-teman gembar-gembor di facebook akan pergi ke inilah itulah. Mimpi saya, saya hanya ingin pergi ke Denver lebaran nanti. Bagaimanapun caranya. Saya ingin bertemu saudara-saudara muslim disana. Denver. Denver. Denver.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

[Live as an exchange student] Part.8 -- Chemistry Class


Kimia?????? "Amit-amit jabang bayi, Gusti". Mungkin dulu sewaktu saya masih di Indonesia kata-kata itulah yang akan terucap ketika mendengar kebesaran nama kimia. Guru saya sangat "tegas" dan....gimana ya, susah diungkapkan. Dibilang killer iya, sangar iya haha. *ga deng bu* peace :p Dulu guru kimia saya di Indonesia jika menunjuk seseorang untuk maju di depan kelas adalah dengan menggunakan tanggal.
" Tanggal berapa ini anak-anak?"
"5 buuuuuuuuuuuu...!" jawab sekelas serempak
"(duh mampus gue)" *perlu diketahui absen saya adalah 15*

Kenapa mampus? Karena dari 5 nanti 15 kemudian 25. Yaitulah nomor saya . Sebelum nomor 5 selesai saya akan berlari kesana kemari mencari sumber jawaban soal selanjutnya agar tidak dihabisi ketika maju nanti.
"Itu x nya massanya siaapa, gineng?"
"Massanya hidrogen bu"
"Hayooooo..... x nya sudah direaksikan belum?"
"(mampus dah, habis bener nih gue)"

*begitulah suasana pelajaran kimia di Indonesia dulu. Selalu senam adrenalin dan banyak berdoa malam sebelum jadwal kimia :p* Maaf ya bu hehe.

Tapi karena guru tersebutlah saya bisa cukup menuai sukses di Amerika. Kebetulan di negara ini saya juga mengambil kimia sebagai mata pelajaran saya. Karena memang pelajarannya tidak begitu berat. Anak amerika dikasih soal kimia stoikiometri Bu Uut *nama guru kimia saya di Indonesia* mungkin sudah pilih berhenti sekolah :p

Kelas kimia adalah kelas favorit saya disini. Karena banyak alasan. Saya sampai terkesimanya hingga saya post di blog ini. Salah satu sahabat baik saya juga ada di kelas ini. Kevin namanya.
Yang saya heran dari kelas ini adalah 180 derajat berbeda dari kelas saya dulu. Bedanya, alamaaaaaaak. Ngekek sampai-sampai saya haha. Judulnya kelas kimia. yang saya bayangkan adalah orang-rang jenius yang ilmiah. Eh, *bukan ngejek lho ya* orangnya sableng semua haha.
termasuk sahabat saya itu. tiap hari kami selalu ada jam laboraturium. Laboraturiumnya sangat lengkap dan seperti di tivi-tivi. Berasa alchemist beneran dah. Nah, sahabat saya itu di laboraturium cuma plonga-plongo. Akhir eksperimen malah kebakaran xD

Yang saya heran dikelas saya ini orangnya gendut-gendut dan tukang makan. Kebetula ngurunya baik hati selalu meyediakan makanan dikelas. Jadilah dikelas berisik suara soda disedot atau kriuk-kriuk potato chips. Pernah suatu hari sang Guru membawa spagheti untuk uji lab. Baru ditinggal mempersiapkan lab, spagheti tersebut sudah raib dimakan teman-teman Rata Penuhsaya. Ketika datang dan ditanya teman saya ini hanya menjawab :
"Loh. Memang tadi ada spagheti Mrs. Curtis?"
Guru saya : " Ada yang makan spaghetinya ga?"

"tentu saja tidak"

Guru : " Bener nih? Saya membawa sphageti sampel loh. Kamu makan yang mana?"

Teman saya : "Yang warna plastiknya biru bu!
Guru : "Hayoooo...ngaku kan akhirnya? Untung yang biru. Yang satunya ada kontaminannya tau!"
*Kelas diam*

Ada lagi teman saya bernama Casey Spitz. Tapi saya memanggilnya Steven Gerrard. Karena memang mirip Steven Gerrardnya Liverpool. Tapi dia sendiri tidak tahu siapa itu Steven Gerrard. Tontonannya sehari-hari cuma American Football. Dia adalah orang paling kontroversial di kelas. Dibilang kontroversial karena semua eksperimennya tidak pernah berhasil! *satu* Suka bermain-main dengan alat laboraturium *dua* Dia adalah orang yang paling rawan kecelakaan di laboraturium. Jika berkelompok harus 5-6 orang di kelompok dia. Padahal hanya dianjurkan 3. Untuk apa 3 lainnya? Untuk memantau Steven Gerrard tidak melakukan apa-apa haha.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

[Live as an exchange student] Part.7 --- Wong India

Halo teman-teman sebangsa dan setanah air. Saya mau berbagi cerita lagi nih. karena hari ini sedang kesal-kesalnya dengan teman exchange saya dari India, maka saya ingin menyampaikan sekelumit tentangnya pada kesempatan kali ini (auwah) Bukannya ngrasani lho ya. Biar jadi pengetahuan saja. Begini sekelumit kisah tentangnya. Sebut saja namanya bunga :p *padahal cowo*

Pertama kali saya bertemu dia di orientasi Washington DC. Saya satu kelompok dengan dia karena mendapatkan placement yang sama. Bahkan kota yang sama. Kota yang saya tempati sekarang. Dari kesan pertama saja saya sudah tidak simpatik. Dia merengek-rengek tidak mengikuti sesi karena pusing. Kemudian hari-hari pertama kami ditempatkan disatu rumah. Saya mengalami berhari-hari bersamanya. Dia adalah orang yang egois yang tidak pernah mau mengalah. Sifatnya keras. Suka merepotkan orang lain. Sedikit-sedikit memerintah. Karena hari-hari awal saya turuti saja. Lama-lama sewot juga. Ora duwe rasa pekewuh blas kalo orang Jawa bilang. Omongannya selalu keras. Sarkasme dan menyombongkan diri. kalau diberi pekerjaan suka melarikan diri kemudian ke kamar untuk online facebook. Masih ingat yang mengatai saya : you're fuc*king stupid, man di locker? Itu juga dia.

Dia mengambil semua subject science di sekolah kami *subject diperbolehka memilih* tapi kemudian dia membatalkan semuanya setelah bertemu guru fisika dan guru kimianya. Dihadapan semua orang dia berceloteh tentang teori ini itu. Begitu juga matematika. dia mengambil semua bab pada matematika. tapi ujung-ujungnya dia berkata kelas trigonometri dan kelas matematika membosankan. Jadilah dibatalkan beberapa sciencenya. Kemudian dia mengambil kelas marketing. baru beberapa hari dia mengeluh kelasnya terlalu berat. Kemudian memutuskan mengambil kelas science. dihadapan guru marketing *yang juga subject yang saya ambil* dia berkata dengan angkuhnya kalau dia bosan dengan science di amerika karena sudah dipelajari semua. Padahal dia pernah bercerita pada saya kalau dia tidak bisa mengikuti. Kemudian dia bertanya pada guru marketing saya apa science yang levelnya paling tinggi *kalau anda jadi saya mungkin sudah anda jitak dia di tempat, bung* Guru marketing saya untungnya guru yang sabar. Dia mendengarkan semua celotehannya tentang India. Saya sudah bosan dengan ceritanya. Bukan dengan india tapi dengan cara dia berbicara yang angkuh. Setelah itu adalah jam lunch. Guru saya masih dengan baik hati menawari mau makan di cafetaria sekolah atau keluar ke fast food. Dia dengan tanpa pekewuhnya minta ke restoran fast food paling mahal *saya di ajak juga sih, tapi saya tolak karena kebetulan bulan puasa*. Dan lagi-lagi dengan angkuhnya mengatakan cafetaria sekolah payah blablabla. kemudian saya bertanya pada guru saya : "Do you eat outside oftenly?"
Beliau : "Not realy. I prefer to eat at school, bud"
Mampussssss looo haha.

Dia juga seorang muslim tapi hanya 3 hari berpuasa di bulan ramadhan. kemudian ketika kami menonton tivi bersama dengan mengunyah makanan dia berceloteh yang dalam bahasa indonesia : "hei. Orang puasa itu ga boleh nntn tivi"
*nyam nyam nyam clllurrp cluuurp (suara orang makan dengan mulut penuh)*
"Gw gampar tivi tau rasa lo"
Kemudian dia mak sluyuuur main komputer dikamar ayah angkat saya. Dia ubah background dikomputer dan settingan-settingannya. Dia ubah backgroundnya menjadi gambar dia yang sedang nampang. Punya hak apa coba dia merubah barang milik orang lain? Setelah ayah saya tahu beliau marah-marah. Beliau mengatakan yang dalam bahasa jawa : "
"Iki bocah duwe tata krama ora to? Jan~ judeg aku. Emange aku meh ndelok rupamu po neng komputerku? Sabetakke prabatang kumyur saka andhamu *walah malah bablas ndalang :p*"
Tapi si india suadah pergi. dia hanya mampir ke rumah kami.
"Gw tambah gampar komputer lo"
Ya Allah kok ya ada makhluk seperti itu. Semoga Engkau membukakan pintu ampun untuknya dan untukku *yang telah ngrasani* amiiiin :)
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

[Live as an exchange student] Part.6 -- American High School


Sekolah saya adalah Rata Penuh Sterling High School. Berada di Sterling, Kabupaten Colorado :p Mengangkat tema orange sebagai dominant nya dan TIGERS sebagai simbol. Sehingga lebih dikenal sebagai Sterling Tigers. Begitulah setiap High School di amerika. Mereka memiliki maskot sebagai lambang sekolah. Misalnya kota tetangga kami, Fleming bermaskotkan Wild Cat. Atau Fort Morgan yang bermaskotkan Bulldog. Macam-macam maskot itu. Bisa hewan bisa binatang mitologi. Sekolah saya sangat besar. Dengan gym dan lapangan yang lengkap. dari mulai Basket, Softball, Baseball, American Football, Soccer kami punya semua lapangan. Disertai laboraturium yang juga serba lengkap dan bersih. Di setiap sudut sekolah juga disediakan mesin minuman dan keran air minum. Oh iya, jangan lupakan juga locker. Setiap siswa memiliki locker masing-masing untuk menyimpan barang-barang mereka. Karena aturan di sekolah tidak memperkenankan siswa membawa backpack atau tas gendong. Saya memilki cerita dengan benda satu ini. Karena sya pada awalny tidak tahu bagaimana memakai locker. Ini tidak seperti kita menyimpan kunci untuk locker kita. tapi kita diberikan kombinasi angka untuk membukanya.

Sialnya saya tidak pernah bisa membuka kombinasi angka itu. Selalu saja stagnan. Padahal perasaan saya sudah saya utak-atik beratus-ratus kali untuk kombinasi tersebut. Alhasil saya harus selalu menenteng buku yang maha tebal untuk dibawa kemana-mana. Di amerika, buku cetak dipinjamkan. Dan untuk satu mata pelajaran bisa sampai setebal 800 atau 900 halaman. textbook kimia saya bertebal 1325 halaman kalau tidak salah. Dan dalam satu hari akan ada 7 pelajaran. jadi saya menenteng 900 x 7 = 6300 halaman + buku tulis di hari-hari awal. Mantaaaap. Padahal kelasnya adalah sistem moving class. Jadi saya harus lari-lari menenteng 6400 halaman (saya sumsikan buku tulis saya 7 buku 100 halaman) tiap hari. Gara-gara locker. Teman exchange student saya dari India samapi dengan kasarnya mengatakan :
" You're fu*king stupid, man!"
Batin saya : "Mbok ben to, asal ku saka ndeso og"

Pelajaran di amerika bisa dibilang relatif sangat mudah. Karena misal : aljabar yang saya pelajari disana adalah pelajaran kelas 1 SMA di Indonesia. Begitu juga kimia dan lain sebagainya. Saya berterimakasih pada Departemen Pendidikan Indonesia atas kurikulum yang diberikan sehingga memungkinkan saya membodohi anak-anak amerika :p Tapi dalam hal konsep saya salut pada pendidikan amerika. Mereka akan membicarakan topik yang ada hingga benar-benar tuntas dan jelas. Untuk konsep Independent dan depenent variabel pada aljabar saja (saya ngambil aljabar sih jadinya cerita aljabar mulu) membutuhkan satu jam penuh. Dan yang saya suka, apabila guru memberikan PR dan anda mengerjakannya butuh waktu lebih dari 15 menit. Maka anda boleh memprotes guru yang bersangkutan atas PR yang diberikan haha. Kapan-kapan kalo males mau protes ahh :p

Ada hal yang membuat saya kaget. Suatu saat guru pelajaran food and nutrition saya bertanya :
" Apakah yang disebut sodium chloride?"

Kelas sepi. Sontak saya spontan pun menjawab :

" elemen-elemen yang membangun garam dapur (NaCl)"

Dan tidak saya sangka, teman-teman sekelas saya mempelototi saya. Semua murid. Saya tidak tahu apa artinya. Apa jawaban saya sangat salah? Tiba-tiba serempak mereka berkata :

"Kamu pintar ya?"
Saya : "What? Enggak ah"
" Tadi itu kamu bilang apa? Jelasin dong."
Saya : " Garam. itu tadi komponen-komponen garam"
"ah aku masih ga ngerti kamu ngomong apa deh"
Batin saya: Apaaaa? NaCl aja ga tau? Coba saya di Indonesia dengan kondisi seperti itu. Guru kimia saya sudah akan pingsan mungkin haha.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

[Live as an exchange student of AFS] Part.5 -- Amerika Selayang Pandang


Amerika tidaklah seburuk yang dibayangkan. Tapi juga tidak semegah yang dibayangkan. Kurang tepat jika orang timur menyebut orang barat tidak punya norma kesopanan. Pertama, karena budaya sifatnya relatif. Tidak ada benar atau salah dalam suatu budaya. Tergantung sejauh mana dan dimana budaya itu dipakai. Yang kedua karena dalam beberapa hal, harus saya akui orang amerika sangatlah sopan. Contohnya : Ketika ada murid baru di Indonesia mungkin akan ditanya,
"Lo asalnya darimana?"
"Dari Solo bang"
"Oh. punya saudara disini?"

Mungkin sebatas itu pada umumnya. Sedangkan orang amerika tidak segan-segan akan mengungkapkan kekagumannya atau rasa apresiasinya.
"Where are you from?"
"Indonesia"
"Wow. Cool. Nice to meet you. Welcome. Hope you''ll like our small town :) How's america as far going? Is it good?"
Bisa dirasakan bagaimana perbedaannya.

Dan yang saya suka adalah mereka selalu mengucapkan "thank you" dan "excuse me" atau "Im sorry". Gentlement untuk mengagumi sesuatu dan gentlement untuk mengakui kesalahan. Suatau hari saya pernah diminta untuk membersihkan debu dengan vakum cleaner. Padahal hanya sedikit sekali debu yang ada. Dan bukan pekerjaan yang amat sulit karena peralatannya praktis. Tapi masih mendapat : "Thanks so much for doing that" Sebuah kata-kata yang tidak pernah saya temukan dalam hidup saya di Indonesia selama 17 tahun ini untuk sebuah pekerjaan yang kecil. Bisa juga dicerminkan dengan kata-kata orang amerika : "Nice try, man!" Mereka menghargai sesuatu yang gagal sebagai usaha yang baik.

Lalu lintas di amerika sangat teratur. Namun jarang sekali ditemui lampu merah di sepanjang jalan. lampu merah hanya ada di jalan-jalan besar atau Main Street. Pengemudinya hanya saling memberikan jalan pada yang lain. Didasari rasa saling peduli lalu lintas dan toleransi. Saya juga kaget ternyata amerika justru jarang lampu merah (kecuali di New York city mungkin). Di dalam kehidupan berlalulintas orang amerika juga terdapat istilah "speed limit" dimana di setiap area tertentu ada batas kecepatan yang harys dipatuhi. Di Indonesia mungkin jika dijalan sepi, kita bisa saja memacu kendaraan kita sampai 120 km per jam. tapi di amerika walaupun jalanan sepi, masih terikat speed limit. Yang di setiap ruas jalannya terdapat radar sensorik yang dapat merekam kecepatan. Yang melebihi speed limit tentu akan ditilang haha.

Hampir saya tidak dapat menemukan orang miskin di amerika. Semua orang punya mobil paling tidak dua. Bahkan ada satu keluarga yang setiap anggota keluarganya memiliki mobil semua. Dan mobil-mobil tersebut bukan lah mobil yang murahan diliat dari merknya. dugaan saya, mungkin di daerah pedesaan seperti country-country bakal memiliki orang miskin. ternyata dugaan saya meleset jaaaaaaaaauhhhhhh. Karena mereka justru memiliki alat-alat berat yang jauh lebih mahal dari mobil. Traktor dan sebagainya semuanya serba otomatis. Saya iseng bertanya berapa harga satu ban besar traktor tersebut dan hasilnya adalah setengah harga sebuah mobil untuk satu ban nya.

Dan di amerika matahari baru terbenam jam 8 malam. Pertama kali saya datang saya heran, karena jam 7 malam masih saja seterang jam 4 sore di Indonesia. Mungkin itu sebabnya orang amerika mengatakan jam 8 masih good evening. Bukan good night.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

[Live as an exchange student of AFS] Part.4 -- Orientasi dan Keberangkatan


Sebelum berangkat ke USA, ada beberapa hal yang perlu disiapkan dan diperbekalkan. Karena itulah, diadakan adanya sutu orientasi yang tidak lain bertujuan untuk membekali saya dan teman-teman seperjuangan lain agar tetap dapat bertahan hidup di Amerika Serikat (ceillle bertahan hidup). Orientasi ini berlangsung selama 8 hari dengan 5 hari pembekalan dan 3 hari Language Orientation Camp. Dimana-mana di Indonesia, yang namanya orientasi pasti konotasinya agak miring. MOS, OSPEK dll adalah salah satu contoh orientasi. Mungkin "demikian" juga orientasi kami. Agak "sangar' kalo boleh dibilang haha. Selama 5 hari pembekalan kami tidur hanya 2 atau 3 jam. Itupun kami sudah sangat senang. Ada satu hari dimana kami hanya tidur 1 jam. Pembekalan mungkin hanya sampai jam 10 malam. Selanjutnya adalah latihan untuk talent show. Yaitu berupa pertunjukkan daerah dari seluruh indonesia untuk ditampilkan di Washington DC. Bisa dibayangkan betapa sulitnya menghimpun seluruh kesenian nusantara menjadi satu bentuk karya seni yang utuh. Itulah sebabnya kami mungkin hanya dapat tidur 2 atau 1 jam setiap malam selama 5 hari tersebut. Jam 6 selesai latihan, jam 7 pagi sudah mulai sesi. Tak pelak, banyyak "menimbulkan" korban orientasi ini (haha lebay) Beberapa diantara kami sakit-sakitan dan tidak fit (termasuk saya :p) Sakit saya yang paling komplikasi mungkin. Batuk, pilek, demam, radang tenggorokan, panas, diare, dan mimisan. Orientasi yang "mantap".

Kami berangkat dari Soekarno Hatta ke Kuala Lumpur. Kemudian melanjutkan perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Frankfurt, Jerman. dari Jerman ke Washington DC. Yang menarik untuk diceritakan adalah diare saya. seperti yang saya bilang diatas, saya mengidap diare sejak orientasi. tau lah, seperti apa gejala diare. Sedikit-sedikit akan pergi ke toilet. Dan yang membuat menarik adalah bahwa semenjak dari Kuala Lumpur, sudah tidak ada lagi toilet air. Semuanya tissu. Padahal saya tidak pernah menggunakan toilet tissu. Di airport Jerman saja mungkin sudah 5 kali saya buang air besar. Di pesawat 4 kali. di Washington 2 kali. Ya ampun, penderitaan yang amat sangat bagi saya waktu itu. Tapi dibalik itu ternyata mengandung hikmah juga, saya lebih terbiasa dengan tipe toilet yang demikian dibandingkan teman-teman lain haha. Banyak dari teman saya yang "ngempet" buang air besar karena tidak mau toilet tissu. Karena saya diare ya mau bagaimana lagi :p Di Washington DC ketika teman saya diinterogasi petugas imigrasi amerika pun saya masih sempat ke toilet :p

Hari pertama di Washington DC, kami mengadakan kunjungan ke kedutaan Indonesia. Sesampainya disana, bukan mencari duta besar Indonesia untuk disalami tetapi saya lebih memilih mencari toilet untuk ditongkrongi haha. Saya pikir karena kedutaan Indonesia, toiletnya bakalan toilet air. Ternyata sama saja zzzzzzzz (malah jadi cerita toilet dan diare)
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

[Live as an exchange student] Part.3 -- Few Days Before Departure

Beberapa hari sebelum keberangkatan saya ke USA adalah hal yang paling membuat saya takut. 2 hari sebelum orientasi camp saya jatuh sakit parah. Demam tinggi hingga 39.5 C. dan flu disertai bersin-bersin. Saya khawatir akan terancam batal. Hingga tengah malam H-1 sakit itu belum juga sembuh. Akhirnya saya pun dibawa ke Unit Gawat darurat untuk diperiksa disana. Jam 2 malam pemeriksaan tersebut baru kelar. Dan dengan sangat tiba-tiba dokter menduga flu babi.
"Loh. Loh kok flu babi dok? Apa tidak hipotesa terlalu dini?"
Dokter : "Teman adik ada yang habis dari luar negeri ga?"
Saya : " Ada sih dok. tapi masa' ya flu babi dok?"
Batin saya : "mampuuuuuuuuuuuuuuuuuuuus. gagal amrik nih"
Kemudian saya pun bertanya : "kalau positiv flu babi bakal diisolasi brapa lama dok?"
Dokter : "2 mingguan lah"
Saya : "whaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat? 2 hari lagi saya berangkat orientasi"
Dokter : "Tenang nak"

Sehari setelah itu dokter mengemukakan hipotesa barunya. Yaitu demam berdarah. kemudian tensi saya di cek. Dan hasilnya adalah 140 untuk usia 17 tahun. Mengejutkan juga. Saya masih juga ngoto minta di tensi ulang.
"Sus. Tolong tensi lagi dong. Rusak jangan-jangan alat tensinya"
Suster : " Tunggu hasil pemeriksaan pokoknya. No way!"
Saya; "zzzzzzzz apa-apaan"

dan saya bertanya : "Akan berapa lama saya dirawat jika positiv DB dok?"
Dokter : " satu minggu lah"
Saya : "whaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat?"

Pulang ke rumah yang saya lakukan adalah segra minum 2 botol jus jambu biji. Wueeeks. Demi amrik. Tapi beberapa jam sebelum keberangkatan, dokter mengemukakan gagasannya lagi.
"oh ini cuma demam tinggi kok"
saya : "fiuuuuuh. untunglah. cuma demam kok sampai gonjang-ganjing flu babi."

Tapi yang terjadi selama orientasi di Jakarta, badan saya panas selalu dan mimisan setiap saat. Apalagi ketika orientasi saya harus tidur 2 jam sehari. Sampai dipesawat pun saya masih sakit-sakitan. Oh Tuhan, namanya cobaan ada-ada saja ternyata. memang tidak mudah untuk mencapai sebuah mimpi.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Perenungan

Bahwa di segala penjuru negeri ini tengah di tempa krisis jatidiri dan kebudayaan. Persoalan klasik memang.
Namun tidak kunjung menemukan solusi yang tepat atas permasalahan yang kita hadapi.
Kemajuan komunikasi dan transportasi membuat suasana mengecilnya jarak bumi ini. Demikian pula kebudayaan-kebudayaannya yang masing-masing tumbuh dalam lingkungan sendiri dan bercampuraduk satu sama lain dan saling mempengaruhi.
Tampaknya khidupan kesenian adalah yang paling menjadi korban dari rasionalisme dan keinginan kekayaan kebudayaan modern.
Kita memaklumi bahwa zaman sekarang ini kekuasaan rasio dan efisiensi ekonomi telah melemahkan fantasi,perasaan dan intuisi.
Itulah yang menjadi perhatian kita sekarang. Bahwa seni wayang itu sendiri telah mengalami suatu crash dengan tuntutan modernisasi dan berkiblat justru pada degradasi mutu dan nilai estetis wayang itu sendiri sbagai sebuah kesenian.
Umar Kayam dalam pendapatnya meyakini bahwa pergeseran suatu masyarakat agraris-feodal menjadi masyarakat kota dikhawatirkan mulai mencairkan kemurnian seni tradisional menjadi sbuah kitsch.
Juga dengan pemikiran Alisyahbana tentang kebudayaan progresif yang berujung pada sekulerisasi atau penduniaan mengandung kecenderungan membuat manusia mendangkal materialistik malahan hedonistik.
Kaitannya adalah bahwa seni pewayangan dewasa ini telah terputus hubungannya dgn masalah kjiwaan yang lebih kepada suatu bentuk hedonistik pertunjukan. Mad
pun juga dengan kesenian tradisional lain secara umum yang telah bergeser dari nilai nilai yang semestinya.
dan permasalahannya dengan permintaan pasar, selera masyarakat dan lain sebagainya. Adakah zaman akan menggilasnya? Mungkin sudah saatnya bagi wayang untuk kembali ke persemaiannya yang agung jauh pada kesuciannya yang dulu. Atau kembali dalam sebuah bentuk transformasi lain yang entah nanti akan diistilahkan sebagai apa.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS