[Live as an exchange student] Part.7 --- Wong India

Halo teman-teman sebangsa dan setanah air. Saya mau berbagi cerita lagi nih. karena hari ini sedang kesal-kesalnya dengan teman exchange saya dari India, maka saya ingin menyampaikan sekelumit tentangnya pada kesempatan kali ini (auwah) Bukannya ngrasani lho ya. Biar jadi pengetahuan saja. Begini sekelumit kisah tentangnya. Sebut saja namanya bunga :p *padahal cowo*

Pertama kali saya bertemu dia di orientasi Washington DC. Saya satu kelompok dengan dia karena mendapatkan placement yang sama. Bahkan kota yang sama. Kota yang saya tempati sekarang. Dari kesan pertama saja saya sudah tidak simpatik. Dia merengek-rengek tidak mengikuti sesi karena pusing. Kemudian hari-hari pertama kami ditempatkan disatu rumah. Saya mengalami berhari-hari bersamanya. Dia adalah orang yang egois yang tidak pernah mau mengalah. Sifatnya keras. Suka merepotkan orang lain. Sedikit-sedikit memerintah. Karena hari-hari awal saya turuti saja. Lama-lama sewot juga. Ora duwe rasa pekewuh blas kalo orang Jawa bilang. Omongannya selalu keras. Sarkasme dan menyombongkan diri. kalau diberi pekerjaan suka melarikan diri kemudian ke kamar untuk online facebook. Masih ingat yang mengatai saya : you're fuc*king stupid, man di locker? Itu juga dia.

Dia mengambil semua subject science di sekolah kami *subject diperbolehka memilih* tapi kemudian dia membatalkan semuanya setelah bertemu guru fisika dan guru kimianya. Dihadapan semua orang dia berceloteh tentang teori ini itu. Begitu juga matematika. dia mengambil semua bab pada matematika. tapi ujung-ujungnya dia berkata kelas trigonometri dan kelas matematika membosankan. Jadilah dibatalkan beberapa sciencenya. Kemudian dia mengambil kelas marketing. baru beberapa hari dia mengeluh kelasnya terlalu berat. Kemudian memutuskan mengambil kelas science. dihadapan guru marketing *yang juga subject yang saya ambil* dia berkata dengan angkuhnya kalau dia bosan dengan science di amerika karena sudah dipelajari semua. Padahal dia pernah bercerita pada saya kalau dia tidak bisa mengikuti. Kemudian dia bertanya pada guru marketing saya apa science yang levelnya paling tinggi *kalau anda jadi saya mungkin sudah anda jitak dia di tempat, bung* Guru marketing saya untungnya guru yang sabar. Dia mendengarkan semua celotehannya tentang India. Saya sudah bosan dengan ceritanya. Bukan dengan india tapi dengan cara dia berbicara yang angkuh. Setelah itu adalah jam lunch. Guru saya masih dengan baik hati menawari mau makan di cafetaria sekolah atau keluar ke fast food. Dia dengan tanpa pekewuhnya minta ke restoran fast food paling mahal *saya di ajak juga sih, tapi saya tolak karena kebetulan bulan puasa*. Dan lagi-lagi dengan angkuhnya mengatakan cafetaria sekolah payah blablabla. kemudian saya bertanya pada guru saya : "Do you eat outside oftenly?"
Beliau : "Not realy. I prefer to eat at school, bud"
Mampussssss looo haha.

Dia juga seorang muslim tapi hanya 3 hari berpuasa di bulan ramadhan. kemudian ketika kami menonton tivi bersama dengan mengunyah makanan dia berceloteh yang dalam bahasa indonesia : "hei. Orang puasa itu ga boleh nntn tivi"
*nyam nyam nyam clllurrp cluuurp (suara orang makan dengan mulut penuh)*
"Gw gampar tivi tau rasa lo"
Kemudian dia mak sluyuuur main komputer dikamar ayah angkat saya. Dia ubah background dikomputer dan settingan-settingannya. Dia ubah backgroundnya menjadi gambar dia yang sedang nampang. Punya hak apa coba dia merubah barang milik orang lain? Setelah ayah saya tahu beliau marah-marah. Beliau mengatakan yang dalam bahasa jawa : "
"Iki bocah duwe tata krama ora to? Jan~ judeg aku. Emange aku meh ndelok rupamu po neng komputerku? Sabetakke prabatang kumyur saka andhamu *walah malah bablas ndalang :p*"
Tapi si india suadah pergi. dia hanya mampir ke rumah kami.
"Gw tambah gampar komputer lo"
Ya Allah kok ya ada makhluk seperti itu. Semoga Engkau membukakan pintu ampun untuknya dan untukku *yang telah ngrasani* amiiiin :)
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

[Live as an exchange student] Part.6 -- American High School


Sekolah saya adalah Rata Penuh Sterling High School. Berada di Sterling, Kabupaten Colorado :p Mengangkat tema orange sebagai dominant nya dan TIGERS sebagai simbol. Sehingga lebih dikenal sebagai Sterling Tigers. Begitulah setiap High School di amerika. Mereka memiliki maskot sebagai lambang sekolah. Misalnya kota tetangga kami, Fleming bermaskotkan Wild Cat. Atau Fort Morgan yang bermaskotkan Bulldog. Macam-macam maskot itu. Bisa hewan bisa binatang mitologi. Sekolah saya sangat besar. Dengan gym dan lapangan yang lengkap. dari mulai Basket, Softball, Baseball, American Football, Soccer kami punya semua lapangan. Disertai laboraturium yang juga serba lengkap dan bersih. Di setiap sudut sekolah juga disediakan mesin minuman dan keran air minum. Oh iya, jangan lupakan juga locker. Setiap siswa memiliki locker masing-masing untuk menyimpan barang-barang mereka. Karena aturan di sekolah tidak memperkenankan siswa membawa backpack atau tas gendong. Saya memilki cerita dengan benda satu ini. Karena sya pada awalny tidak tahu bagaimana memakai locker. Ini tidak seperti kita menyimpan kunci untuk locker kita. tapi kita diberikan kombinasi angka untuk membukanya.

Sialnya saya tidak pernah bisa membuka kombinasi angka itu. Selalu saja stagnan. Padahal perasaan saya sudah saya utak-atik beratus-ratus kali untuk kombinasi tersebut. Alhasil saya harus selalu menenteng buku yang maha tebal untuk dibawa kemana-mana. Di amerika, buku cetak dipinjamkan. Dan untuk satu mata pelajaran bisa sampai setebal 800 atau 900 halaman. textbook kimia saya bertebal 1325 halaman kalau tidak salah. Dan dalam satu hari akan ada 7 pelajaran. jadi saya menenteng 900 x 7 = 6300 halaman + buku tulis di hari-hari awal. Mantaaaap. Padahal kelasnya adalah sistem moving class. Jadi saya harus lari-lari menenteng 6400 halaman (saya sumsikan buku tulis saya 7 buku 100 halaman) tiap hari. Gara-gara locker. Teman exchange student saya dari India samapi dengan kasarnya mengatakan :
" You're fu*king stupid, man!"
Batin saya : "Mbok ben to, asal ku saka ndeso og"

Pelajaran di amerika bisa dibilang relatif sangat mudah. Karena misal : aljabar yang saya pelajari disana adalah pelajaran kelas 1 SMA di Indonesia. Begitu juga kimia dan lain sebagainya. Saya berterimakasih pada Departemen Pendidikan Indonesia atas kurikulum yang diberikan sehingga memungkinkan saya membodohi anak-anak amerika :p Tapi dalam hal konsep saya salut pada pendidikan amerika. Mereka akan membicarakan topik yang ada hingga benar-benar tuntas dan jelas. Untuk konsep Independent dan depenent variabel pada aljabar saja (saya ngambil aljabar sih jadinya cerita aljabar mulu) membutuhkan satu jam penuh. Dan yang saya suka, apabila guru memberikan PR dan anda mengerjakannya butuh waktu lebih dari 15 menit. Maka anda boleh memprotes guru yang bersangkutan atas PR yang diberikan haha. Kapan-kapan kalo males mau protes ahh :p

Ada hal yang membuat saya kaget. Suatu saat guru pelajaran food and nutrition saya bertanya :
" Apakah yang disebut sodium chloride?"

Kelas sepi. Sontak saya spontan pun menjawab :

" elemen-elemen yang membangun garam dapur (NaCl)"

Dan tidak saya sangka, teman-teman sekelas saya mempelototi saya. Semua murid. Saya tidak tahu apa artinya. Apa jawaban saya sangat salah? Tiba-tiba serempak mereka berkata :

"Kamu pintar ya?"
Saya : "What? Enggak ah"
" Tadi itu kamu bilang apa? Jelasin dong."
Saya : " Garam. itu tadi komponen-komponen garam"
"ah aku masih ga ngerti kamu ngomong apa deh"
Batin saya: Apaaaa? NaCl aja ga tau? Coba saya di Indonesia dengan kondisi seperti itu. Guru kimia saya sudah akan pingsan mungkin haha.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

[Live as an exchange student of AFS] Part.5 -- Amerika Selayang Pandang


Amerika tidaklah seburuk yang dibayangkan. Tapi juga tidak semegah yang dibayangkan. Kurang tepat jika orang timur menyebut orang barat tidak punya norma kesopanan. Pertama, karena budaya sifatnya relatif. Tidak ada benar atau salah dalam suatu budaya. Tergantung sejauh mana dan dimana budaya itu dipakai. Yang kedua karena dalam beberapa hal, harus saya akui orang amerika sangatlah sopan. Contohnya : Ketika ada murid baru di Indonesia mungkin akan ditanya,
"Lo asalnya darimana?"
"Dari Solo bang"
"Oh. punya saudara disini?"

Mungkin sebatas itu pada umumnya. Sedangkan orang amerika tidak segan-segan akan mengungkapkan kekagumannya atau rasa apresiasinya.
"Where are you from?"
"Indonesia"
"Wow. Cool. Nice to meet you. Welcome. Hope you''ll like our small town :) How's america as far going? Is it good?"
Bisa dirasakan bagaimana perbedaannya.

Dan yang saya suka adalah mereka selalu mengucapkan "thank you" dan "excuse me" atau "Im sorry". Gentlement untuk mengagumi sesuatu dan gentlement untuk mengakui kesalahan. Suatau hari saya pernah diminta untuk membersihkan debu dengan vakum cleaner. Padahal hanya sedikit sekali debu yang ada. Dan bukan pekerjaan yang amat sulit karena peralatannya praktis. Tapi masih mendapat : "Thanks so much for doing that" Sebuah kata-kata yang tidak pernah saya temukan dalam hidup saya di Indonesia selama 17 tahun ini untuk sebuah pekerjaan yang kecil. Bisa juga dicerminkan dengan kata-kata orang amerika : "Nice try, man!" Mereka menghargai sesuatu yang gagal sebagai usaha yang baik.

Lalu lintas di amerika sangat teratur. Namun jarang sekali ditemui lampu merah di sepanjang jalan. lampu merah hanya ada di jalan-jalan besar atau Main Street. Pengemudinya hanya saling memberikan jalan pada yang lain. Didasari rasa saling peduli lalu lintas dan toleransi. Saya juga kaget ternyata amerika justru jarang lampu merah (kecuali di New York city mungkin). Di dalam kehidupan berlalulintas orang amerika juga terdapat istilah "speed limit" dimana di setiap area tertentu ada batas kecepatan yang harys dipatuhi. Di Indonesia mungkin jika dijalan sepi, kita bisa saja memacu kendaraan kita sampai 120 km per jam. tapi di amerika walaupun jalanan sepi, masih terikat speed limit. Yang di setiap ruas jalannya terdapat radar sensorik yang dapat merekam kecepatan. Yang melebihi speed limit tentu akan ditilang haha.

Hampir saya tidak dapat menemukan orang miskin di amerika. Semua orang punya mobil paling tidak dua. Bahkan ada satu keluarga yang setiap anggota keluarganya memiliki mobil semua. Dan mobil-mobil tersebut bukan lah mobil yang murahan diliat dari merknya. dugaan saya, mungkin di daerah pedesaan seperti country-country bakal memiliki orang miskin. ternyata dugaan saya meleset jaaaaaaaaauhhhhhh. Karena mereka justru memiliki alat-alat berat yang jauh lebih mahal dari mobil. Traktor dan sebagainya semuanya serba otomatis. Saya iseng bertanya berapa harga satu ban besar traktor tersebut dan hasilnya adalah setengah harga sebuah mobil untuk satu ban nya.

Dan di amerika matahari baru terbenam jam 8 malam. Pertama kali saya datang saya heran, karena jam 7 malam masih saja seterang jam 4 sore di Indonesia. Mungkin itu sebabnya orang amerika mengatakan jam 8 masih good evening. Bukan good night.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

[Live as an exchange student of AFS] Part.4 -- Orientasi dan Keberangkatan


Sebelum berangkat ke USA, ada beberapa hal yang perlu disiapkan dan diperbekalkan. Karena itulah, diadakan adanya sutu orientasi yang tidak lain bertujuan untuk membekali saya dan teman-teman seperjuangan lain agar tetap dapat bertahan hidup di Amerika Serikat (ceillle bertahan hidup). Orientasi ini berlangsung selama 8 hari dengan 5 hari pembekalan dan 3 hari Language Orientation Camp. Dimana-mana di Indonesia, yang namanya orientasi pasti konotasinya agak miring. MOS, OSPEK dll adalah salah satu contoh orientasi. Mungkin "demikian" juga orientasi kami. Agak "sangar' kalo boleh dibilang haha. Selama 5 hari pembekalan kami tidur hanya 2 atau 3 jam. Itupun kami sudah sangat senang. Ada satu hari dimana kami hanya tidur 1 jam. Pembekalan mungkin hanya sampai jam 10 malam. Selanjutnya adalah latihan untuk talent show. Yaitu berupa pertunjukkan daerah dari seluruh indonesia untuk ditampilkan di Washington DC. Bisa dibayangkan betapa sulitnya menghimpun seluruh kesenian nusantara menjadi satu bentuk karya seni yang utuh. Itulah sebabnya kami mungkin hanya dapat tidur 2 atau 1 jam setiap malam selama 5 hari tersebut. Jam 6 selesai latihan, jam 7 pagi sudah mulai sesi. Tak pelak, banyyak "menimbulkan" korban orientasi ini (haha lebay) Beberapa diantara kami sakit-sakitan dan tidak fit (termasuk saya :p) Sakit saya yang paling komplikasi mungkin. Batuk, pilek, demam, radang tenggorokan, panas, diare, dan mimisan. Orientasi yang "mantap".

Kami berangkat dari Soekarno Hatta ke Kuala Lumpur. Kemudian melanjutkan perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Frankfurt, Jerman. dari Jerman ke Washington DC. Yang menarik untuk diceritakan adalah diare saya. seperti yang saya bilang diatas, saya mengidap diare sejak orientasi. tau lah, seperti apa gejala diare. Sedikit-sedikit akan pergi ke toilet. Dan yang membuat menarik adalah bahwa semenjak dari Kuala Lumpur, sudah tidak ada lagi toilet air. Semuanya tissu. Padahal saya tidak pernah menggunakan toilet tissu. Di airport Jerman saja mungkin sudah 5 kali saya buang air besar. Di pesawat 4 kali. di Washington 2 kali. Ya ampun, penderitaan yang amat sangat bagi saya waktu itu. Tapi dibalik itu ternyata mengandung hikmah juga, saya lebih terbiasa dengan tipe toilet yang demikian dibandingkan teman-teman lain haha. Banyak dari teman saya yang "ngempet" buang air besar karena tidak mau toilet tissu. Karena saya diare ya mau bagaimana lagi :p Di Washington DC ketika teman saya diinterogasi petugas imigrasi amerika pun saya masih sempat ke toilet :p

Hari pertama di Washington DC, kami mengadakan kunjungan ke kedutaan Indonesia. Sesampainya disana, bukan mencari duta besar Indonesia untuk disalami tetapi saya lebih memilih mencari toilet untuk ditongkrongi haha. Saya pikir karena kedutaan Indonesia, toiletnya bakalan toilet air. Ternyata sama saja zzzzzzzz (malah jadi cerita toilet dan diare)
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

[Live as an exchange student] Part.3 -- Few Days Before Departure

Beberapa hari sebelum keberangkatan saya ke USA adalah hal yang paling membuat saya takut. 2 hari sebelum orientasi camp saya jatuh sakit parah. Demam tinggi hingga 39.5 C. dan flu disertai bersin-bersin. Saya khawatir akan terancam batal. Hingga tengah malam H-1 sakit itu belum juga sembuh. Akhirnya saya pun dibawa ke Unit Gawat darurat untuk diperiksa disana. Jam 2 malam pemeriksaan tersebut baru kelar. Dan dengan sangat tiba-tiba dokter menduga flu babi.
"Loh. Loh kok flu babi dok? Apa tidak hipotesa terlalu dini?"
Dokter : "Teman adik ada yang habis dari luar negeri ga?"
Saya : " Ada sih dok. tapi masa' ya flu babi dok?"
Batin saya : "mampuuuuuuuuuuuuuuuuuuuus. gagal amrik nih"
Kemudian saya pun bertanya : "kalau positiv flu babi bakal diisolasi brapa lama dok?"
Dokter : "2 mingguan lah"
Saya : "whaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat? 2 hari lagi saya berangkat orientasi"
Dokter : "Tenang nak"

Sehari setelah itu dokter mengemukakan hipotesa barunya. Yaitu demam berdarah. kemudian tensi saya di cek. Dan hasilnya adalah 140 untuk usia 17 tahun. Mengejutkan juga. Saya masih juga ngoto minta di tensi ulang.
"Sus. Tolong tensi lagi dong. Rusak jangan-jangan alat tensinya"
Suster : " Tunggu hasil pemeriksaan pokoknya. No way!"
Saya; "zzzzzzzz apa-apaan"

dan saya bertanya : "Akan berapa lama saya dirawat jika positiv DB dok?"
Dokter : " satu minggu lah"
Saya : "whaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat?"

Pulang ke rumah yang saya lakukan adalah segra minum 2 botol jus jambu biji. Wueeeks. Demi amrik. Tapi beberapa jam sebelum keberangkatan, dokter mengemukakan gagasannya lagi.
"oh ini cuma demam tinggi kok"
saya : "fiuuuuuh. untunglah. cuma demam kok sampai gonjang-ganjing flu babi."

Tapi yang terjadi selama orientasi di Jakarta, badan saya panas selalu dan mimisan setiap saat. Apalagi ketika orientasi saya harus tidur 2 jam sehari. Sampai dipesawat pun saya masih sakit-sakitan. Oh Tuhan, namanya cobaan ada-ada saja ternyata. memang tidak mudah untuk mencapai sebuah mimpi.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Perenungan

Bahwa di segala penjuru negeri ini tengah di tempa krisis jatidiri dan kebudayaan. Persoalan klasik memang.
Namun tidak kunjung menemukan solusi yang tepat atas permasalahan yang kita hadapi.
Kemajuan komunikasi dan transportasi membuat suasana mengecilnya jarak bumi ini. Demikian pula kebudayaan-kebudayaannya yang masing-masing tumbuh dalam lingkungan sendiri dan bercampuraduk satu sama lain dan saling mempengaruhi.
Tampaknya khidupan kesenian adalah yang paling menjadi korban dari rasionalisme dan keinginan kekayaan kebudayaan modern.
Kita memaklumi bahwa zaman sekarang ini kekuasaan rasio dan efisiensi ekonomi telah melemahkan fantasi,perasaan dan intuisi.
Itulah yang menjadi perhatian kita sekarang. Bahwa seni wayang itu sendiri telah mengalami suatu crash dengan tuntutan modernisasi dan berkiblat justru pada degradasi mutu dan nilai estetis wayang itu sendiri sbagai sebuah kesenian.
Umar Kayam dalam pendapatnya meyakini bahwa pergeseran suatu masyarakat agraris-feodal menjadi masyarakat kota dikhawatirkan mulai mencairkan kemurnian seni tradisional menjadi sbuah kitsch.
Juga dengan pemikiran Alisyahbana tentang kebudayaan progresif yang berujung pada sekulerisasi atau penduniaan mengandung kecenderungan membuat manusia mendangkal materialistik malahan hedonistik.
Kaitannya adalah bahwa seni pewayangan dewasa ini telah terputus hubungannya dgn masalah kjiwaan yang lebih kepada suatu bentuk hedonistik pertunjukan. Mad
pun juga dengan kesenian tradisional lain secara umum yang telah bergeser dari nilai nilai yang semestinya.
dan permasalahannya dengan permintaan pasar, selera masyarakat dan lain sebagainya. Adakah zaman akan menggilasnya? Mungkin sudah saatnya bagi wayang untuk kembali ke persemaiannya yang agung jauh pada kesuciannya yang dulu. Atau kembali dalam sebuah bentuk transformasi lain yang entah nanti akan diistilahkan sebagai apa.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

[Live as an exchange student of AFS] Part 2. Special Thanks Before the Departure

I personally want to say best thanks for everyone and crew that supposed for my program in joining AFS Youth Exchange an Study USA. I am nothing without you. For all experiences that I will never ever forget in entire of my live. For the trust that given for me to be the representative and ambassador of my nation. For all kind of supports that you have given. Tons of thanks I present to :

* Miss Kery Gooley as the President of AFS Intercultural Inc.

One White hall 2nd Floor New York, USA (The place that never be forgotten for us. From the place that everything were designed and planned )

*AFS USA

One White hall 2nd Floor New York, USA (The name that will be written in our mind for EVER)

*CIEE (Council on International Educational Exchange)

300 Fore Street Portland, Maine USA (Thanks for your trust and supports given, for your trust that will be held strongly by us)

*AFS Indonesia Inc with Bina Antar Budaya

(I will never reach this without you, thanks for the dedication. Thanks for the beliefs given to be a representative of Indonesia. Let us bring the flag to USA, then we will keep it high.)

*Chapter Semarang and its volunteers

(I will never begin the story If there aren’t you. You are the first who write this story in my destiny)

*My Host Family

Kent Armstrong

1014 Bettie Drive sterling, Colorado USA 80751

(Thanks for hosting)

* Sterling Senior High School, Colorado

407 West Broadway Sterling, CO 80751

ROCKIN’ you all guys :D

* Wilton – Lyndeboro Senior High, New Hampshire

(You are all awesoooooooooome dude! :D Thanks for inspiring me everytime)

* AFSers over the world

Ferhat Rodoplu : LETS GO FREAKIN CRAAAZY IN THE DC, duuuuddy lol.

Ayca Pinar Dogan : Let's do the plaaans, duude! haha.

Claire MacFarlane : Claire, so much thanks for telling me US.

Corey Drake : Hey bro, thank you for your so much help :)

Tizziana Durazzano : Hey Tizia, take care in Germany (I still forget to call you with only 1 "z" :p)

Johanna Schwerzler : You inspired me much

Damaris Blatt : Thank you for the sharing Damaris.

Margarita Nefyodova : You're such a great volunteer, meet you then in Russia :)

and all persons that can be mentioned one by one, you are all veeeery GREAT!

” We came as a stranger then we leave you as a friend :) “

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

[Live as an exchange student of AFS] Part.1 Westlife - Fool Again

Mungkin di tulisan sebelumnya, saya lupa memperkenalkan diri telebih dahulu (hehe). Nama saya Gineng Pratidina Permana Sakti. Nama yang cukup sulit untuk diingat bagi orang biasa. Dan biasanya orang-orang pun spontan bertanya, “Gineng? Artinya apa?” Dan saya pun hanya tertawa haha. Gineng sendiri tidak bermakna apa-apa, tapi Gineng Pratidina berarti sebuah kebenaran yang tidak akan pernah mati (enough nice, isn’t it? :p).

Saya sangat mencintai budaya tanah kelahiran saya, Jawa. Itu sebabnya beberapa tulisan saya terdahulu adalah berkenaan dengan aspek-aspek filosofis masyarakat Jawa. Disamping itu, ada sisi lain dari hidup saya yang teramat ingin saya bagi bersama teman-teman dan orang lain. Yaitu aspek kehidupan saya yang lain yang seratus persen berbeda dengan dunia filsafat dan filosofi. Bukan dengan apa-apa, namun saya berharap bisa menjadi pengetahuan dan pembelajaran. Saya sendiri menghayati kehidupan saya yang satu ini sebagai sebuah perjalanan batin dan pengalaman saya yang amat panjang.

” I am an AFSer and I wicked proud of it“. Lalu, apa itu AFS? AFS adalah organisasi pertukaran pelajar terbesar di dunia yang setiap tahunnya mengelola siswa-siswanya untuk belajar dan tinggal di negeri lain. Dan kebetulan saya adalah salah satu dari siswa tersebut yang mendapat keberuntungan untuk mencicipi hidup di Amerika Serikat dan mengenyam High School disana. Tepatnya di Sterling, Colorado.

Saya masih ingat betul, bagaimana dulu ketika saya masih SMP selalu duduk termenung di depan Mushola ketika bel istirahat sambil menatap ke arah langit luas. Yang saya lakukan ketika itu adalah berpikir dengan kecupetan akal dan pengetahuannya , “seperti inikah pula langit di Amerika?”.

Kemudian hari-hari terhabiskan demikian monotonnya dengan berkhayal dan menyelami fantasi. Masih terngiang juga di benak saya ketika seorang teman dengan ketusnya mengatakan pada saya,

” Kamu itu mikir apa Gin? Amerika lagi? Muke lo jauh kali. hahaha”

Anyway okelah, terima kasih teman untuk kata-kata itu, karena justru dari situ saya tau, itu mimpi saya. Walaupun tidak sama sekali dimaksudkan untuk memberika kesadaran atau persepsi.

Itulah yang mengawali perjalanan saya sebagai seorang AFSer. Dimulai dari kebiasaan melihat langit sambil bergelut dan terhenyak dalam imajinasi tentang Amerika Serikat. Sampai di rumah pun, ketika senja menjelang, saya akan naik ke atap rumah sambil lagi-lagi menatap langit. Bermimpi tentang Amerika. Entah kenapa, hanya perasaan damai ketika mimpi itu terealisasikan dalam hasrat dan image tertentu. Kemudian dari sana saya tahu, bahwa yang membuat hidup ini berarti adalah karena kita memiliki mimpi dan ambisi.

Sampai pada suatu ketika, saya menemukan dalam komputer saya file tentang Westlife tidak tahu darimana. Bukan kebiasaan saya mendengarkan lagu-lagu Barat. Saya lebih suka duduk berjam-jam mendengarkan Gamelan atau Campursari. Dan entah kenapa, tiba-tiba saja ada suatu chemistry yang menarik saya untuk mendengarkannya. WESTLIFE – FOOL AGAIN. Itulah lagu Barat yang pertama kali saya dengarkan dalam hidup saya. Lagi-lagi saya teringat tentang Amerika. Walaupun sedikit pun tidak kaitan antara syair dalam lagu itu dengan Amerika. Namun nuansa yang saya rasakan adalah nuansa keamerikaan dalam lagu itu ( pandangan yang amat subjektif juga sebenarnya). Jadilah, hari-hari saya hanya dihabiskan untuk mendengarkannya. Entah berapa kali saya putar. Tetap saja tidak ada kebosanan sedikit pun. Yang paling saya suka kala itu ialah, bermain playstation dengan kaset Driver 3 (game mengendarai mobil di kota) yang memang bersetting d Chicago, Illlinois USA sambil mendengarkan Fool Again. Atau menggambar bendera Amerika pada aplikasi paint di komputer (ketika itu hanya itu yang saya bisa :p) dengan mendengarkan Fool Again. Sudah berapa bendera saya buat dan sampai sekarang, sudah berapa lambang saya kreasikan. Dan file itu pun masih dalam komputer saya haha.

Sampai pada akhirnya dari ribuan tahap seleksi saya dinyatakan terkualifikasi sebagai penerima beasiswa. Bukan hal yang mudah pula bagi saya bertarung dengan ambisi dan keadaan kala itu. Dengan hidup seorang diri sebagai anak kos, saya melamar mengambil formulir beasiswa. Dengan hanya berbekal ambisi dan fantasi. Tanpa tahu akan seperti apa nantinya saya realisasikan resiko itu. Tahap pertama seleksi saya dengan kenekatannya memutuskan tidur di terminal. Saya berangkat seorang diri dengan bus, kemudian berencana tidur di terminal sampai pagi benar menjelang. Karena pada hari seleksi itu, seleksi diadakan begitu pagi dan kota saya tergolong jauh dari kota seleksi. Saya di Solo sedangkan seleksi di Semarang.


Seleksi tahap berikutnya saya berangkat bersama teman saya dengan menumpang membonceng motornya. Kemudian kami menyewa hotel jelek ditengah sawah di Ungaran agar bisa mencapai Semarang pagi benar. Malamnya kami harus berjalan jauh dari tengah sawah itu untuk mencari makan. Kami dapatkan dipinggiran jalan, sego goreng semarang.

Seleksi tahap ketiga lagi-lagi saya menumpang diteman saya yang lain di boyolali. Menginap dirumahnya untuk bisa diantarkan. Saya hanya anak kos dengan uang pas-pasan. Anak kos dengan kesendiriannya merantau di Solo sehingga tumpang-menumpang adalah sesuatu hal yang wajar bagi saya.

Bukan hal yang mengherankan bagi saya untuk tidur diemperan dengan berbalut kedinginan. Atau berjalan kaki berkilo-kilo jauhnya karena orang tua saya tidak memberikan motor. Jadi dengan kondisi yang tidak tahu malu, saya bertahan. Biarlah tumpang menumpang asal tujuan saya terselaraskan.

Sampai beberapa seleksi berikutnya (total 7 tahap) saya mengalami hal serupa. Sampai pada puncaknya saya berangkat seleksi nasional dengan kenekatan. Seleksi nasional ada di Jakarta. Saya berangkat dengan mengantongi Rp 250.000,- Setelah sebelumnya saya meminta kiriman dana dari om saya Rp 150.000. Kebetulan hari tu adalah tanggal tua anak kos. Saya berangkat dengan segenap kenekatan. Sama seperti seleksi-seleksi sebelumnya. Ongkos PP Rp 220.000 dengan kereta bisnis Senja Utama. Sampai di Jakarta praktis saya hanya memiliki Rp 30.000. Rp 20.000 saya habiskan untuk makan sebelum berangkat dan di kereta. Saya pun sempat tertipu pedagang dikereta yang mengatakan nasi ayam Harga Rp 15.000, ternyata berisi nasi telur busuk. Jadilah berarti saya hanya makan sebelum berangkat, Rp 5000 sambel pecel Bu Lami dekat kos saya. Sampai di Jakarta uang hanya tinggal Rp 10.000. Perjalanan sekitar 12 jam. Saya baru sadar bahwa saya tidak membawa sikat, odol dan sabun. Dengan sangat terpaksa saya cairkan Rp 10.000 menjadi wujud barang-barang itu. Teman-teman saya mengajak saya sarapan.

"Gin, ayo sarapan. Cari di McDonald atau Dunkin"
Batin saya " Mbahmu kopyor. Duitku kari atusan le!"

Kemudian karena lama tidak menjawab teman saya langsung saja ngluyur ke Dunkin dan McDonald di stasiun.

Beberapa lama saya memandangnya. Dengan maksud ia semoga memperhatikan saya dengan kelaparannya. Tapi ternyata tidak. Burger dan french fries itu begitu saja masuk di mulutnya sedikit demi sedikit. Kemudian semuanya.

"Kamu ga makan gin?"
saya : "ga cukup uang"
"Oh"
saya : "nanti aja sampe hotel nunggu makan siang."
batin saya : "kopyor ora nawari gek tekok-tekok -,- "

Sesampainya di hotel saya hanya meneguk air putih sambil melihat gambar kopi di majalah yang ada di hotel. Agar terbayang minum kopi.

Yah~begitulah.

Berawal dari Fool Again, mimpi saya berubah menjadi ambisi. Sampai sekarang pun saya masih dibayang-bayangi paranoia itu. Saya tidak pernah menyesal telah bertindak demikian konyol, karena dari kekonyolan itu saya berpikir dan berusaha “menciptakannya”. Seperti yang Socrates bilang, bahwa “aku ada karena aku berpikir”. Kita adalah seperti apa yang kita pikirkan. Jangan pernah berhenti untuk bermimpi!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Sebuah Filosofi Cinta

Terlalu banyak madyaloka menyimpan misterinya. Terlalu semu misteri-misteri itu untuk diberikan suatu batasan. Bukannya tak berbatas, namun batas itu yang menjadikan dirinya sendiri menjadi maya. Dalam ketakterbatasan itulah tersimpan keterbatasan yang harus diterjemahkan sesuai hakikatnya masing-masing.
Hakikatnya, cinta itu tak berhakikat. Karena hakikat itu terwujud dalam suatu manifestadi interpretasinya terhadap kondisinya masing-masing.

Arjuna menerjemahkan cintanya sendiri. Duryudana memiliki interpretasi dan penghayatannya sendiri. Rahwana terjebak dalam romantismenya sendiri. Dan Lesmana widagda melilih menginterpretasikannya sebagai suatu hal yang tak terdefinisi.

Bagi Ajuna, cinta adalah kepuasan tidak terbatas yang justru ia sendiri tidak mendapatkan apa itu cinta.

Bagi Duryudana, cintanya adalah mencintai satu arah. Dan terbuai dalam cintanya yang tak berbatas namun salah dan tak tertuju. Sehingga lagi-lagi ia tidak mendapatkan apa-apa dari cinta.

Bagi Rahwana, cinta adalah pengorbanan terhadap romantisme. Sehingga ia terjebak dalam suatu romantisme traumatik yg statis. Dan lagi-lagi, tiada mendapatkan apapun ia dari interpretasi cintanya.

Bagi Lesmana, cinta adalah kekosongan sehingga ia memilih untuk tidak menginterpretasikannya dgn menjadi seorang Brahmacarya.

Demikianlah ketika cinta dalam interpretasi yg tidak pada hakikatnya.
Lain halnya dengan Salya dgn filosofinya. Lain dengan Yudistira dengan kesederhanaan dan kesetiaannya.
Mereka yg mendefinisikan cintanya ke dalam suatu filosofi, berhasil menempatkan suatu hakikat pada hakikatnya.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Wayang Dalam Dimensi Rasionalitas

Disadari atau tidak,wayang sebagai bentuk kebudayaan secara khas yang merupakan buah dari cipta,rasa dan karsa adalah suatu bentuk struktural kompleks sebuah pemikiran manusia yang agung,estetis dan RASIONAL.
Bukan hanya sekadar nilai tontonan dan tuntunan saja yang bisa kita petik dari segi budaya yang satu ini.
Bukan hanya itu.
Kajian wayang adalah kajian multi dimensional yang saling berabstraksi satu sama lain membentuk sebuah kesatuan cerita yang sarat kebajikan dan membangun pola pemikiran secara LOGIS.

Mungkin sampai saat anda membaca kalimat di atas,anda terus bertanya dimankah letak pemikiran yang logis dan rasional itu?

Mari kami tunjukkan pada anda beberapa Teori ilmiah yg terkandung dalam cerita wayang.

Jauh sebelum GREGOR MENDEL, Bapak Genetika dunia mencetuskan teori genetikanya tentang Genotip dan Fenotip, dalam cerita pewayangan sudah terlebih dahulu menunjukan Teori tersebut dengan bahasa yang amat halus dan contoh yang konkrit serta penjelasannya secara sistematis.

Apa buktinya?

mari kita tilik dalam cerita Ramayanana bahwa dewi Sukesi dan begawan Wisrawa melahirkan 3 putra RAKSASA dan 1 putra berwujud MANUSIA.
Putra raksasa adalah akibat gen dominan dari dewi Sukesi yang memang keturunan raksasa dan putra manusia adalah akibat gen resesif begawan Wisrawa yang memang berwujud manusia.

begitu pun yang terjadi pada Mahabarata
yaitu pada Prabu Salya yang berputrakan 1 RAKSASA dan 3 MANUSIA

dan masih banyak contoh ilmiah yang lain.

jika anda memiliki fakta lain tinggal tulis saja disini dan biarkan dunia tahu bahwa wayang dalah juga merupakan buah pemikiran RASIONAL — LOGIS.
bukan hanya sekadar cerita yang tanpa sarat

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS