Sebuah Filosofi Cinta

Terlalu banyak madyaloka menyimpan misterinya. Terlalu semu misteri-misteri itu untuk diberikan suatu batasan. Bukannya tak berbatas, namun batas itu yang menjadikan dirinya sendiri menjadi maya. Dalam ketakterbatasan itulah tersimpan keterbatasan yang harus diterjemahkan sesuai hakikatnya masing-masing.
Hakikatnya, cinta itu tak berhakikat. Karena hakikat itu terwujud dalam suatu manifestadi interpretasinya terhadap kondisinya masing-masing.

Arjuna menerjemahkan cintanya sendiri. Duryudana memiliki interpretasi dan penghayatannya sendiri. Rahwana terjebak dalam romantismenya sendiri. Dan Lesmana widagda melilih menginterpretasikannya sebagai suatu hal yang tak terdefinisi.

Bagi Ajuna, cinta adalah kepuasan tidak terbatas yang justru ia sendiri tidak mendapatkan apa itu cinta.

Bagi Duryudana, cintanya adalah mencintai satu arah. Dan terbuai dalam cintanya yang tak berbatas namun salah dan tak tertuju. Sehingga lagi-lagi ia tidak mendapatkan apa-apa dari cinta.

Bagi Rahwana, cinta adalah pengorbanan terhadap romantisme. Sehingga ia terjebak dalam suatu romantisme traumatik yg statis. Dan lagi-lagi, tiada mendapatkan apapun ia dari interpretasi cintanya.

Bagi Lesmana, cinta adalah kekosongan sehingga ia memilih untuk tidak menginterpretasikannya dgn menjadi seorang Brahmacarya.

Demikianlah ketika cinta dalam interpretasi yg tidak pada hakikatnya.
Lain halnya dengan Salya dgn filosofinya. Lain dengan Yudistira dengan kesederhanaan dan kesetiaannya.
Mereka yg mendefinisikan cintanya ke dalam suatu filosofi, berhasil menempatkan suatu hakikat pada hakikatnya.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Wayang Dalam Dimensi Rasionalitas

Disadari atau tidak,wayang sebagai bentuk kebudayaan secara khas yang merupakan buah dari cipta,rasa dan karsa adalah suatu bentuk struktural kompleks sebuah pemikiran manusia yang agung,estetis dan RASIONAL.
Bukan hanya sekadar nilai tontonan dan tuntunan saja yang bisa kita petik dari segi budaya yang satu ini.
Bukan hanya itu.
Kajian wayang adalah kajian multi dimensional yang saling berabstraksi satu sama lain membentuk sebuah kesatuan cerita yang sarat kebajikan dan membangun pola pemikiran secara LOGIS.

Mungkin sampai saat anda membaca kalimat di atas,anda terus bertanya dimankah letak pemikiran yang logis dan rasional itu?

Mari kami tunjukkan pada anda beberapa Teori ilmiah yg terkandung dalam cerita wayang.

Jauh sebelum GREGOR MENDEL, Bapak Genetika dunia mencetuskan teori genetikanya tentang Genotip dan Fenotip, dalam cerita pewayangan sudah terlebih dahulu menunjukan Teori tersebut dengan bahasa yang amat halus dan contoh yang konkrit serta penjelasannya secara sistematis.

Apa buktinya?

mari kita tilik dalam cerita Ramayanana bahwa dewi Sukesi dan begawan Wisrawa melahirkan 3 putra RAKSASA dan 1 putra berwujud MANUSIA.
Putra raksasa adalah akibat gen dominan dari dewi Sukesi yang memang keturunan raksasa dan putra manusia adalah akibat gen resesif begawan Wisrawa yang memang berwujud manusia.

begitu pun yang terjadi pada Mahabarata
yaitu pada Prabu Salya yang berputrakan 1 RAKSASA dan 3 MANUSIA

dan masih banyak contoh ilmiah yang lain.

jika anda memiliki fakta lain tinggal tulis saja disini dan biarkan dunia tahu bahwa wayang dalah juga merupakan buah pemikiran RASIONAL — LOGIS.
bukan hanya sekadar cerita yang tanpa sarat

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Philosophy of Java - Jawadwipa an introduction

Kata Jawadwipa secara terminologis mengacu pada Pulau Jawa (Dwipa : Pulau). Bukan dengan tulisan ini saya bermaksud menjadi sosok yg bersifat primordialistis, namun dengan tulisan ini saya mengharapkan adanya pemahaman yang baik terhadap Pulau Jawa dan segala sesuatu yang hidup dan eksis dalam kajian Jawa. Jawa, seperti suatu tempat manapun di dunia, memiliki filsafat, tata cara (customs) dan interpretasi material terhadap segala sesuatu disekitarnya. Filsafat, customs, interpretasi tersebut adalah tidak lain sebagai bentuk pemahaman masyarakat Jawa atas lingkungannya. Filsafat Jawa contohnya, memiliki karakteristik sebagaimana filsafat-filsafat lain. Yaitu suatu bentuk pemahaman masyarakatnya dalam memandang hidup dan kehidupan secara manifestatik dan menjunjung kebersamaan. Disebut manifestatik, karena masyarakat Jawa selalu menerjemahkan segala sesutau berdasarkan sebab akibat (karma) yang merupakan manifestasi perilaku. “Sopo sing nandur bakal ngundhuh” (Yang menanam, yang akan menuai) atau “Kabecikan kuwi bali marang kabecikan, ala bali marang ala” (Kebenaran itu akan kembali pada kebenaran dan segala sesuatu yang baik dan keburukan akan kembali pada keburukan). Hal ini tidak lain karena masyarakat Jawa memandang dunia sebagai bentuk keseimbangan sempurna. yaitu bahwa segala sesuatu selalu diciptakan berpasangan (Dwimurti) yang sebenarnya adalah sifat saling menghilangkan. Dunia itu sebenarnya berawal dari kosong dan sampai sekarang kekosongan tersebut masih terjaga pada hakikatnya (dengan konsep saling menghilangkan tersebut, pada hakikatnya semua ada pada porsi yang sama sehingga diasumsikan sebagai kekosongan). Apa yang masyarakat Jawa pahami diatas sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang ditangkap oleh Sir Isaac Newton yaitu bahwa benda/materi adalah relatif mempertahankan kedudukannya. Kecuali ada suatu gaya dari luar yang mengakibatkan benda tersebut bergerak (Hk.I Newton). Dunia adalah materinya dan gaya tersebut adalah kekuatan Tuhan. Dan sebenarnya masih banyak lagi konsepsi ilmiah yang secara tidak disadari adalah merupakan Filsafat Jawa pula. Selanjutnya akan saya posting.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS